Global Monetary Reset : 7 Fakta Penting tentang Emas, Perak, Dolar, dan Masa Depan Ekonomi Dunia
- account_circle Andy Schectman, Brent Johnson, Dr. Nomi Prins, Mark Moss, dan Taylor Kenney, David Hunter
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

global monetary reset
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Apakah global monetary reset benar-benar sedang terjadi, dan apa artinya bagi emas, perak, dolar, serta masyarakat Indonesia?
Jawaban Cepat
Global monetary reset lebih tepat dipahami sebagai perubahan struktural dalam sistem moneter dan keuangan dunia, bukan pergantian sistem secara mendadak dalam satu hari. Pembahasannya mencakup reposisi cadangan, meningkatnya perhatian terhadap emas, perkembangan sistem pembayaran alternatif, perubahan kepercayaan terhadap mata uang fiat, serta kemungkinan dunia menjadi lebih terfragmentasi. Dolar AS masih memiliki peran penting dalam likuiditas global.
Apa Itu Global Monetary Reset?
Global monetary reset adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan besar pada arsitektur moneter dan keuangan internasional. Perubahan tersebut dapat mencakup cadangan bank sentral, sistem pembayaran lintas negara, hubungan antara mata uang fiat dan aset riil, serta peran emas sebagai aset cadangan.
Dalam diskusi Global Monetary Reset: Gold – The New Standard, Andy Schectman, Brent Johnson, Dr. Nomi Prins, Mark Moss, dan Taylor Kenney membahas apakah dunia sedang menuju reset moneter atau mengalami reposisi struktural dalam sistem yang masih berpusat pada dolar. Diskusi tersebut direkam pada 26 Januari 2026 di Vancouver Resource Investment Conference.
Karena itu, global monetary reset tidak seharusnya dipahami sebagai satu tanggal tertentu ketika seluruh sistem keuangan dunia langsung diganti. Yang lebih terlihat adalah perubahan bertahap dalam cadangan, jalur pembayaran, kepercayaan, dan strategi negara.
1. Emas Semakin Penting dalam Perubahan Sistem Moneter
Salah satu tema terkuat dalam global monetary reset adalah meningkatnya perhatian terhadap emas. Para panelis membahas emas sebagai aset cadangan yang relatif netral dan sebagai instrumen diversifikasi terhadap mata uang fiat.
Brent Johnson membedakan status dolar sebagai reserve currency dengan reserve asset. Menurut pandangannya dalam diskusi, dolar tidak akan hilang dengan cepat karena masih mempunyai fungsi likuiditas global, sementara emas dapat semakin penting sebagai aset cadangan.
Dr. Nomi Prins juga menggambarkan perubahan tersebut sebagai reposisi struktural. Ia menyoroti meningkatnya peran emas dalam cadangan bank sentral dan penggunaannya sebagai diversifikasi terhadap dolar.
Dalam konteks global monetary reset, meningkatnya peran emas tidak otomatis membuktikan bahwa dunia akan kembali ke standar emas klasik. Para panelis sendiri mempunyai pandangan berbeda mengenai bentuk sistem masa depan.
Sebagian melihat emas sebagai jangkar penyelesaian yang netral, sementara pandangan lain menilai teknologi dan jaringan pembayaran baru dapat membentuk sistem yang berbeda.
2. Dolar Tidak Otomatis Berakhir
Pembahasan global monetary reset sering disederhanakan menjadi cerita tentang keruntuhan dolar. Padahal, sumber menunjukkan persoalan tersebut jauh lebih kompleks.
Dalam diskusi VRIC, Brent Johnson menyatakan bahwa dolar tetap dominan dalam likuiditas, sedangkan emas dapat memperoleh permintaan karena kebutuhan diversifikasi dan kepercayaan terhadap aset yang tidak diterbitkan oleh satu negara.
Bahkan, salah satu panelis mengangkat kemungkinan stablecoin berbasis dolar justru memperluas penggunaan dolar secara global. Artinya, global monetary reset tidak otomatis berarti dunia akan meninggalkan dolar secara total.
Bagi Indonesia, perbedaan ini penting. Dampaknya dapat muncul melalui nilai tukar, harga komoditas, biaya pembiayaan, inflasi, dan daya beli, tanpa harus menunggu keruntuhan sistem moneter.
Harga emas dalam rupiah juga dipengaruhi harga emas dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Karena itu, perubahan harga emas dalam dolar tidak selalu menghasilkan perubahan yang identik dalam rupiah.
3. Perak Memiliki Cerita yang Berbeda
Perak menjadi bagian penting dalam global monetary reset karena mempunyai fungsi sebagai logam mulia sekaligus bahan industri.
David Hunter dalam wawancara 22 Agustus 2026 menyatakan bahwa US$200 per ounce adalah target perak yang saat ini paling ia yakini untuk siklus yang ia bahas. Ia tidak mencapai target US$1.000 untuk siklus tersebut dan menempatkannya pada kemungkinan siklus yang lebih jauh, sekitar dekade 2030-an.
Target tersebut merupakan proyeksi David Hunter, bukan jaminan harga. Karena itu, pembaca sebaiknya tidak menjadikan angka tersebut sebagai kepastian investasi.
Hunter juga menjelaskan bahwa perak sebelumnya bergerak sangat cepat dari sekitar US$50 menuju US$122 sebelum mengalami koreksi. Menurutnya, koreksi tersebut dapat menjadi proses yang mengeluarkan investor yang memiliki keyakinan lebih lemah.
Pelajaran dari global monetary reset bukan mengejar angka US$200, melainkan memahami karakter aset volatil. Kenaikan besar dapat diikuti koreksi tajam, sehingga pengelolaan risiko tetap penting.
4. Pelemahan Mata Uang Dapat Memengaruhi Harga Emas
Dalam narasi global monetary reset, nilai mata uang menjadi faktor penting karena harga emas dinyatakan dalam mata uang tertentu.
David Hunter memperkirakan sebagian kenaikan emas menuju sekitar US$7.000 dalam skenarionya akan berkaitan dengan pelemahan dolar dan penurunan suku bunga. Ia juga memperkirakan imbal hasil Treasury 10 tahun dapat turun sangat rendah dalam periode tertentu.
Namun, global monetary reset bukan formula sederhana bahwa dolar turun berarti emas pasti naik. Harga emas juga dipengaruhi permintaan bank sentral, investasi, suku bunga, likuiditas, geopolitik, dan sentimen pasar.
Bagi masyarakat Indonesia, terdapat faktor tambahan berupa nilai tukar rupiah. Jika emas dunia naik sementara rupiah melemah, harga emas domestik dapat bergerak lebih tinggi dalam rupiah.
Sebaliknya, koreksi emas dunia dan perubahan kurs dapat menghasilkan dampak berbeda. Karena itu, investor Indonesia perlu melihat harga emas dalam konteks mata uang dan periode investasi.
5. Jepang Menjadi Salah Satu Risiko yang Dibahas
David Hunter menyebut Jepang sebagai salah satu kandidat wild card dalam potensi bust. Ia menyoroti kebijakan suku bunga rendah selama puluhan tahun, kenaikan imbal hasil obligasi Jepang, pergerakan yen, dan tingginya leverage.
Menurut kerangka Hunter, persoalannya bukan hanya jumlah utang Jepang, tetapi apa yang terjadi ketika biaya uang yang selama bertahun-tahun ditekan rendah mulai meningkat.
Leverage menjadi penting dalam global monetary reset karena perubahan biaya pembiayaan dapat memberikan dampak besar kepada pihak yang mempunyai utang tinggi. Hunter menekankan bahwa leverage memperbesar keuntungan ketika kondisi mendukung, tetapi juga memperbesar kerugian ketika kondisi berbalik.
Penting untuk membedakan antara skenario dan fakta. Pernyataan bahwa Jepang dapat menjadi pemicu krisis global merupakan pandangan analis, bukan kepastian bahwa peristiwa tersebut akan terjadi.
6. Utang Global Menjadi Perhatian Besar
David Hunter mengaitkan kekhawatirannya terhadap potensi bust dengan utang global yang ia sebut lebih dari US$330 triliun. Ia tidak mengatakan angka tersebut secara otomatis akan menghasilkan krisis utang negara. Fokusnya justru pada potensi masalah di sektor utang swasta.
Ia menyebut commercial real estate, private equity, dan private credit sebagai beberapa area yang menurutnya perlu diperhatikan ketika likuiditas mengetat.
Dalam global monetary reset, angka utang harus dibaca secara hati-hati. Besarnya utang saja tidak menentukan kapan krisis terjadi. Struktur utang, tingkat bunga, jatuh tempo, mata uang utang, kemampuan membayar, serta kondisi kreditur juga sangat penting.
Karena itu, angka US$330 triliun sebaiknya dipahami sebagai gambaran mengenai besarnya sistem utang yang menjadi perhatian, bukan sebagai penghitung mundur menuju krisis.
7. Sistem Pembayaran Dunia Mulai Lebih Beragam
CIPS, MBridge, BRICS Pay, dan jaringan pembayaran alternatif menjadi bagian penting dalam pembahasan global monetary reset.
Dalam diskusi VRIC, Andy Schectman mengaitkan perkembangan sistem tersebut dengan upaya sebagian negara mengembangkan jalur pembayaran yang tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur tradisional. Ia juga membahas hubungan antara sistem pembayaran alternatif dan emas.
Dr. Nomi Prins menggambarkan perkembangan ini sebagai reposisi sistem keuangan global. Menurutnya, perubahan mencakup cadangan bank sentral, sistem pembayaran, dan penggunaan emas sebagai diversifikasi terhadap mata uang fiat.
Namun, perkembangan sistem alternatif tidak berarti dolar langsung ditinggalkan. Diskusi tersebut juga memunculkan kemungkinan dunia yang lebih terfragmentasi, dengan beberapa blok ekonomi menggunakan mata uang dan jaringan pembayaran berbeda.
Inilah salah satu alasan global monetary reset tidak memiliki satu bentuk akhir yang dapat dipastikan. Prosesnya dapat menghasilkan kombinasi antara dolar, emas, mata uang lokal, teknologi pembayaran, dan aset digital.
Apa yang Perlu Dilakukan Rakyat Indonesia?
Global monetary reset bukan alasan untuk panik atau mengejar investasi secara emosional. Masyarakat Indonesia justru dapat menggunakan periode ketidakpastian ini untuk memperkuat fondasi keuangan keluarga.
Pahami hubungan antara inflasi, suku bunga, nilai tukar, utang, emas, dan perak. Jangan hanya mengikuti pergerakan harga harian karena perubahan struktural membutuhkan perspektif yang lebih panjang.
Jika mempertimbangkan emas atau perak dalam menghadapi global monetary reset, pahami fungsi dan risikonya. Logam mulia bukan alat untuk menghilangkan seluruh risiko investasi.
Anjuran yang Harus Dilaksanakan ✔️
✔️ Anjuran pertama. Tingkatkan literasi keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.
✔️ Anjuran kedua. Diversifikasikan aset sesuai kemampuan, kebutuhan, dan toleransi risiko.
✔️ Anjuran ketiga. Jika membeli emas atau perak, pahami spread harga, biaya penyimpanan, likuiditas, dan volatilitas.
✔️ Anjuran keempat. Pantau inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah, dan perkembangan ekonomi global secara objektif.
✔️ Anjuran kelima. Bangun dana darurat dan kendalikan utang sebelum mengejar keuntungan investasi.
Larangan yang Harus Dihindari ❌
❌ Larangan pertama. Jangan menganggap global monetary reset sebagai kepastian bahwa dolar akan segera runtuh.
❌ Larangan kedua. Jangan membeli emas atau perak hanya karena target harga ekstrem seorang analis.
❌ Larangan ketiga. Jangan menggunakan utang berlebihan untuk mengejar keuntungan dari aset volatil.
❌ Larangan keempat. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan video viral atau satu narasi ekonomi.
❌ Larangan kelima. Jangan mengorbankan kebutuhan keluarga demi spekulasi investasi.
Kesimpulan
Global monetary reset lebih tepat dipahami sebagai proses perubahan struktural dalam sistem keuangan dunia, bukan sebagai satu peristiwa yang terjadi dalam sehari. Perubahan tersebut mencakup meningkatnya perhatian terhadap emas, berkembangnya sistem pembayaran alternatif, reposisi cadangan, serta perdebatan mengenai masa depan dolar dan aset riil.
Sumber VRIC menunjukkan bahwa emas dapat semakin penting sebagai aset cadangan tanpa berarti dolar langsung kehilangan seluruh perannya. David Hunter di sisi lain menyoroti potensi perak, koreksi pasar, Jepang, leverage, dan utang global sebagai bagian dari skenario yang perlu diperhatikan.
Bagi masyarakat Indonesia, global monetary reset seharusnya menjadi alasan untuk meningkatkan literasi, bukan kepanikan. Pahami risiko, jaga likuiditas, kelola utang, dan lakukan diversifikasi sesuai kondisi keuangan masing-masing.
Tidak ada prediksi harga emas atau perak yang dapat menggantikan perencanaan keuangan yang sehat. Dunia dapat berubah, tetapi disiplin mengelola uang, memahami risiko, dan menyiapkan masa depan keluarga tetap menjadi fondasi penting.
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi. Silakan tinjau disclaimer lengkap kami: https://nalarglobal.com/en/disclaimer/ sebelum menerapkan informasi apa pun.
Frequently Asked Questions
1. Apa yang dimaksud dengan global monetary reset?
Global monetary reset adalah istilah untuk menggambarkan perubahan struktural dalam sistem moneter dan keuangan internasional, termasuk perubahan cadangan, sistem pembayaran, dan peran aset seperti emas.
2. Apakah global monetary reset berarti dolar AS akan runtuh?
Tidak ada dasar dari sumber yang digunakan untuk menyatakan bahwa dolar pasti segera runtuh. Diskusi justru menunjukkan bahwa dolar masih mempunyai peran penting dalam likuiditas global.
3. Mengapa emas penting dalam global monetary reset?
Emas dibahas sebagai aset cadangan dan diversifikasi terhadap mata uang fiat. Sebagian panelis melihat emas sebagai aset yang relatif netral dalam sistem keuangan internasional.
4. Apakah emas pasti mencapai US$7.000?
Tidak. US$7.000 merupakan proyeksi David Hunter dalam skenario yang ia sampaikan, bukan kepastian harga.
5. Apakah perak bisa mencapai US$200 per ounce?
David Hunter menyatakan US$200 sebagai target yang paling ia yakini untuk siklus yang dibahas. Namun, target tersebut merupakan proyeksi dan bukan jaminan.
6. Mengapa perak sangat volatil?
Perak dipengaruhi faktor investasi sekaligus permintaan industri. Kenaikan harga yang cepat juga dapat diikuti koreksi besar.
7. Mengapa Jepang disebut sebagai wild card?
David Hunter menyoroti kebijakan suku bunga rendah Jepang, kenaikan imbal hasil obligasi, yen, dan leverage sebagai faktor yang menurutnya dapat meningkatkan risiko.
8. Apakah utang global US$330 triliun pasti menyebabkan krisis?
Tidak. Angka tersebut menunjukkan besarnya utang global yang menjadi perhatian Hunter, tetapi tidak menentukan secara otomatis kapan atau apakah krisis akan terjadi.
9. Apa hubungan CIPS, MBridge, dan BRICS Pay dengan perubahan sistem moneter?
Ketiganya dibahas sebagai bagian dari perkembangan jaringan pembayaran alternatif. Perkembangan tersebut dapat mengurangi ketergantungan sebagian transaksi pada infrastruktur pembayaran tradisional.
10. Apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat Indonesia?
Masyarakat dapat meningkatkan literasi keuangan, menjaga dana darurat, mengelola utang, memahami risiko investasi, dan melakukan diversifikasi sesuai kemampuan masing-masing.
Ringkasan
Global monetary reset menggambarkan proses perubahan struktural dalam sistem keuangan internasional. Diskusi para panelis VRIC 2026 menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak harus berarti keruntuhan dolar secara tiba-tiba. Sebaliknya, dunia sedang menghadapi perubahan dalam cadangan bank sentral, sistem pembayaran, kepercayaan terhadap mata uang fiat, dan posisi aset riil.
Emas menjadi salah satu pusat perhatian karena semakin banyak dibahas sebagai aset cadangan dan diversifikasi. Namun, meningkatnya peran emas tidak otomatis berarti dunia akan kembali ke standar emas klasik. Bahkan para panelis memiliki pandangan berbeda mengenai bentuk sistem moneter masa depan.
Perak mempunyai karakter berbeda karena selain menjadi logam mulia, perak juga digunakan dalam berbagai kebutuhan industri. David Hunter menyatakan target US$200 per ounce untuk siklus yang ia bahas dan menempatkan kemungkinan US$1.000 pada siklus yang lebih jauh. Target tersebut merupakan pandangan analis, bukan kepastian.
Global monetary reset juga berkaitan dengan persoalan mata uang, suku bunga, Jepang, leverage, dan utang global. Hunter menyebut utang global lebih dari US$330 triliun sebagai salah satu alasan kekhawatirannya terhadap potensi bust, terutama pada sektor utang swasta.
Di sisi sistem pembayaran, CIPS, MBridge, dan BRICS Pay menunjukkan berkembangnya alternatif. Namun, dolar masih memiliki fungsi penting dalam likuiditas global.
Bagi Indonesia, global monetary reset sebaiknya menjadi momentum memperkuat literasi keuangan. Masyarakat tidak perlu mengejar prediksi ekstrem, tetapi perlu memahami inflasi, nilai tukar, utang, risiko investasi, dana darurat, serta pentingnya diversifikasi. Dengan pemahaman yang lebih baik, perubahan ekonomi global dapat dihadapi dengan lebih tenang dan terukur.
Meta Description
Global monetary reset mulai membentuk perubahan sistem keuangan dunia. Pelajari peran emas, perak, dolar, utang global, Jepang, dan sistem pembayaran baru.
Referensi
YouTube
David Hunter — Analis dan investor dengan fokus pada siklus ekonomi, pasar keuangan, emas, perak, dan risiko makroekonomi.
Judul video: 6 MINS AGO! The Global Monetary Reset Has Begun (ACT NOW) – David Hunter
Tanggal: 22 Agustus 2026
Link: https://www.youtube.com/watch?v=AMR04voFS6I
Andy Schectman, Brent Johnson, Dr. Nomi Prins, Mark Moss, dan Taylor Kenney — Panelis dengan pembahasan mengenai emas, dolar, cadangan bank sentral, sistem pembayaran, dan perubahan sistem moneter global.
Judul video: Global Monetary Reset: Gold – The New Standard
Tanggal rekaman: 26 Januari 2026, Vancouver Resource Investment Conference
Link: https://www.youtube.com/watch?v=M4VsHbIXSys






- Penulis: Andy Schectman, Brent Johnson, Dr. Nomi Prins, Mark Moss, dan Taylor Kenney, David Hunter
- Editor: TRS
- Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=M4VsHbIXSys

Saat ini belum ada komentar