7 Pelajaran Dahsyat: Syukur Lebih Tinggi Derajatnya dari Takwa, Kok Bisa?
- account_circle Gus Baha
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

syukur lebih tinggi derajatnya dari takwa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mengapa Gus Baha menjelaskan bahwa syukur lebih tinggi derajatnya dari takwa?
Jawaban Cepat
Syukur lebih tinggi derajatnya dari takwa dalam penjelasan Gus Baha bukan berarti takwa tidak penting. Justru takwa menjadi jalan agar seseorang mencapai kualitas syukur yang lebih tinggi. Ketika seseorang mampu melihat berbagai keadaan sebagai nikmat Allah, termasuk nikmat karena berhasil meninggalkan maksiat, ia tidak hanya menjalankan perintah dan menjauhi larangan, tetapi juga belajar menerima, menghargai, dan mensyukuri pemberian Allah dengan lebih dalam.
Ada kalanya seseorang merasa hidupnya akan bahagia setelah mendapatkan sesuatu yang besar: jabatan, kekayaan, popularitas, atau berbagai fasilitas. Namun Gus Baha mengajak kita membalik cara berpikir tersebut. Jangan sampai kebahagiaan digantungkan pada semakin banyaknya keinginan, karena semakin banyak kebutuhan yang kita ciptakan, semakin banyak pula hal yang berpotensi membuat kita kecewa.
Dalam ceramahnya, Gus Baha menghubungkan syukur dengan tauhid, makrifatullah, qanaah, kesederhanaan, dan kemampuan menerima keadaan.
Gus Baha dan Cara Memandang Syukur
Gus Baha, atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim, merupakan ulama dan pengasuh pesantren dari Rembang, Jawa Tengah. Dalam ceramah yang disampaikan pada 13 Juli 2023, ia mengajak jamaah melihat hubungan manusia dengan Allah dari sudut pandang yang lebih mendasar: bukan hanya apa yang ingin kita dapatkan, tetapi bagaimana kita memahami siapa Tuhan yang kita sembah dan bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan sebagai hamba-Nya.
Salah satu gagasan utama yang berulang dalam ceramah tersebut adalah bahwa hubungan dengan Allah harus ditempatkan sebagai yang paling utama. Gus Baha menekankan syukur dan menjelaskan bahwa takwa memiliki posisi penting sebagai jalan menuju kualitas syukur tersebut.
Pembahasan ini menarik karena persoalan syukur sering kali kita pahami secara sederhana. Kita bersyukur ketika mendapatkan rezeki, kesehatan, pekerjaan, keluarga, atau kabar baik. Tetapi bagaimana jika yang datang justru sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan?
Di sinilah pembahasan Gus Baha menjadi relevan. Ia tidak hanya berbicara tentang mengucapkan alhamdulillah, tetapi mengajak pendengar mengubah cara melihat kehidupan. Bahkan ketika seseorang berhasil menghindari maksiat, keadaan itu sendiri dapat menjadi nikmat yang patut disyukuri.
Mengapa Syukur Lebih Tinggi Derajatnya dari Takwa?
Menurut penjelasan Gus Baha, syukur dan takwa tidak seharusnya dipertentangkan. Ia justru menggambarkan takwa sebagai jalan yang mengantarkan seseorang kepada derajat syukur. Dalam ceramahnya, gagasan tersebut disampaikan dengan merujuk pada pemahaman bahwa hubungan dengan Allah merupakan perkara yang paling utama.
Takwa membuat seseorang berusaha menjaga diri dari perbuatan yang dilarang dan menjalankan apa yang diperintahkan. Namun setelah berhasil meninggalkan sesuatu yang buruk, seseorang masih dapat melihat keberhasilan itu sebagai karunia Allah.
Dengan cara pandang seperti ini, seseorang tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang sudah saya lakukan?” Ia juga mulai bertanya, “Siapa yang memberi saya kemampuan untuk melakukan kebaikan tersebut?”
Perubahan sudut pandang itu penting. Sebab seseorang bisa saja merasa dirinya hebat karena mampu beribadah, mampu meninggalkan maksiat, atau mampu menjalani kehidupan dengan baik. Padahal, dalam perspektif syukur, semua kemampuan tersebut tetap dipandang sebagai nikmat dari Allah.
Gus Baha bahkan memberikan contoh sederhana: seseorang yang mampu tidak melakukan maksiat mempunyai alasan untuk bersyukur. Menurutnya, nikmat yang dirasakan orang yang bersyukur karena berhasil meninggalkan maksiat dapat lebih tinggi daripada sekadar melihat keadaan itu sebagai keberhasilan dirinya sendiri.
Takwa Menjadi Jalan Menuju Syukur
Pembahasan tentang syukur lebih tinggi derajatnya dari takwa menjadi lebih mudah dipahami apabila keduanya tidak dianggap sebagai dua hal yang saling berlawanan.
Takwa mengarahkan seseorang untuk menjaga perilaku. Ia menjadi bentuk kesungguhan seorang Muslim dalam menaati Allah dan menjauhi perkara yang dilarang. Dari proses tersebut, seseorang dapat belajar mengenali berbagai nikmat yang sebelumnya tidak ia sadari.
Misalnya, ketika seseorang berhasil menahan diri dari maksiat, ia tidak hanya mengatakan, “Saya berhasil menolak godaan.” Ia dapat mengubahnya menjadi kesadaran, “Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kekuatan untuk tidak melakukan maksiat.”
Di sinilah syukur memiliki kedalaman yang berbeda. Yang disyukuri bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga pertolongan Allah yang memungkinkan seseorang sampai pada hasil tersebut.
Cara pandang ini juga membantu seorang Muslim terhindar dari kebanggaan berlebihan terhadap amalnya. Semakin seseorang memahami bahwa kemampuan berbuat baik merupakan nikmat Allah, semakin kecil alasan untuk merasa paling hebat dibandingkan orang lain.
Syukur Tidak Hanya Ketika Mendapat Apa yang Diinginkan
Salah satu bagian penting dalam ceramah Gus Baha adalah ajakan untuk tidak menjadikan doa sebagai satu-satunya ukuran hubungan dengan Allah. Ia mengingatkan bahwa jika hubungan dengan Allah hanya dibangun melalui permintaan, seseorang berpotensi mengalami kekecewaan ketika apa yang diminta tidak kunjung terwujud.
Dalam kehidupan sehari-hari, pola seperti ini sangat mudah terjadi. Ketika membutuhkan pekerjaan, kita berdoa. Ketika membutuhkan uang, kita berdoa. Ketika menginginkan jabatan, pasangan, kesehatan, atau keberhasilan tertentu, kita kembali berdoa.
Berdoa tentu bukan persoalan yang dipermasalahkan dalam ceramah tersebut. Yang menjadi perhatian adalah cara seseorang memandang Allah. Jika doa berubah menjadi semacam transaksi—saya meminta sesuatu, lalu ketika tidak mendapatkannya saya kecewa—hubungan spiritual dapat menjadi rapuh.
Karena itu, Gus Baha menempatkan iman dan makrifatullah sebagai perkara mendasar sebelum seseorang menjadikan doa sebagai ukuran keberagamaan.
Pandangan tersebut membawa kita kembali kepada inti pembahasan: syukur. Orang yang bersyukur tidak hanya bahagia ketika mendapatkan apa yang ia minta. Ia juga belajar melihat bahwa kehidupan yang sedang dijalaninya sendiri sudah dipenuhi berbagai nikmat.
Ketika Tidak Mendapatkan yang Diinginkan
Kita sering mengukur nikmat berdasarkan ukuran yang besar. Rumah harus lebih bagus, kendaraan harus lebih mahal, jabatan harus lebih tinggi, penghasilan harus semakin besar, dan pengakuan masyarakat harus semakin luas.
Gus Baha justru mengajak jamaah menguji kembali cara berpikir tersebut. Jika kebahagiaan hanya bergantung pada semakin banyaknya kebutuhan, maka kehidupan akan semakin rumit. Semakin banyak keinginan, semakin banyak pula kemungkinan munculnya kekecewaan.
Ia mengutip gagasan ulama tentang kecukupan yang bukan berarti memenuhi seluruh keinginan, melainkan berusaha mengurangi sebanyak mungkin hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Dalam ceramah itu, prinsip tersebut dikaitkan dengan kemampuan hidup sederhana dan qanaah.
Di titik ini, syukur bukan sekadar ucapan. Syukur menjadi cara memandang kehidupan.
Orang yang memiliki sedikit tetapi mampu menghargai apa yang dimilikinya dapat memiliki ketenangan yang tidak selalu dimiliki orang yang mempunyai banyak hal. Sebaliknya, seseorang yang terus menambah keinginan bisa tetap merasa kurang meskipun kebutuhannya secara materi sudah terpenuhi.
Syukur, Qanaah, dan Hidup yang Lebih Sederhana
Gus Baha menggambarkan qanaah sebagai salah satu bentuk kearifan yang membantu manusia tidak menggantungkan kebahagiaannya kepada terlalu banyak hal. Dalam ceramahnya, ia mencontohkan bahwa menikmati hal-hal sederhana dapat membuat seseorang tidak terlalu bergantung pada kemewahan.
Pesannya sederhana tetapi dalam: jangan membuat sesuatu yang sebenarnya tidak mendesak menjadi kebutuhan hidup.
Jika lapar, kebutuhan dasarnya adalah makanan yang baik dan sehat. Tetapi jika seseorang menetapkan bahwa ia hanya akan puas dengan makanan dari tempat tertentu, ia menciptakan kebutuhan tambahan yang sebenarnya tidak wajib. Ketika tempat tersebut tutup atau sulit dijangkau, muncul kekecewaan yang sebenarnya berasal dari keinginan yang dibuat sendiri.
Cara berpikir seperti ini dapat diterapkan dalam banyak hal. Semakin sedikit kebahagiaan kita bergantung pada sesuatu di luar diri, semakin sederhana pula cara kita menjalani kehidupan.
Bagi seorang Muslim, kesederhanaan tersebut bukan berarti menolak rezeki atau mengharamkan kemewahan. Intinya adalah jangan sampai hati menjadi bergantung kepada benda, jabatan, popularitas, atau fasilitas sehingga kehilangan kemampuan untuk bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah.
Anjuran dan Larangan untuk Muslimin dan Muslimat Indonesia

Anjuran dan Larangan – syukur lebih tinggi derajatnya dari takwa
Anjuran yang harus dilaksanakan ✔️
✔️ Anjuran pertama: Biasakan mengucapkan syukur kepada Allah, bukan hanya ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkan, tetapi juga ketika berhasil terhindar dari keburukan.
✔️ Anjuran kedua: Perkuat pemahaman tauhid dan hubungan kepada Allah agar ibadah tidak berhenti pada rutinitas, tetapi melahirkan kesadaran tentang siapa yang memberikan seluruh nikmat.
✔️ Anjuran ketiga: Latih qanaah dengan membedakan kebutuhan yang benar-benar penting dari keinginan yang hanya mengikuti hawa nafsu.
✔️ Anjuran keempat: Belajar menikmati nikmat sederhana agar kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kekayaan, jabatan, popularitas, atau fasilitas.
✔️ Anjuran kelima: Belajar melihat kebaikan sebagai pertolongan Allah sehingga amal tidak menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Larangan yang harus dihindari ❌
❌ Larangan pertama: Jangan menjadikan doa semata-mata sebagai transaksi untuk mendapatkan seluruh keinginan duniawi.
❌ Larangan kedua: Jangan menganggap diri hebat hanya karena mampu melakukan kebaikan, karena kemampuan untuk berbuat baik juga merupakan nikmat dari Allah.
❌ Larangan ketiga: Jangan menjadikan kemewahan sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan.
❌ Larangan keempat: Jangan menciptakan terlalu banyak kebutuhan yang sebenarnya tidak mendesak hingga kehidupan menjadi penuh kecemasan dan kekecewaan.
❌ Larangan kelima: Jangan kehilangan rasa syukur hanya karena kehidupan tidak berjalan sesuai dengan keinginan.






- Penulis: Gus Baha
- Editor: TRS
- Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=TkJuMidhqiw&t=220s

Saat ini belum ada komentar