Prediksi Jeremy Grantham Tentang Crash AI : 7 Peringatan Penting Untuk Rakyat Indonesia
- account_circle Jeremy Grantham
- calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

Prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Apakah prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI benar-benar perlu dikhawatirkan oleh masyarakat Indonesia?
Jawaban Cepat
Prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI berangkat dari keyakinannya bahwa pasar AI telah menunjukkan ciri-ciri gelembung investasi besar. Ia memperingatkan bahwa saham yang naik paling ekstrem dapat mengalami penurunan sangat dalam ketika euforia berakhir. Menurutnya, investor perlu melakukan diversifikasi, menjaga kas, memiliki obligasi dan sebagian logam mulia, serta tidak terlalu terkonsentrasi pada saham Amerika.
Pembukaan
Bayangkan Anda melihat harga sebuah aset terus naik selama berbulan-bulan. Teman mulai membelinya. Media membicarakannya setiap hari. Bahkan orang yang sebelumnya tidak pernah berinvestasi mulai merasa takut ketinggalan.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang sulit bukan lagi “Apakah teknologi ini bagus?”, tetapi “Apakah harga yang kita bayar sudah terlalu mahal?”
Pertanyaan tersebut menjadi inti prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI. Grantham tidak menganggap kecerdasan buatan sebagai teknologi gagal. Sebaliknya, ia menyebut AI sebagai salah satu gagasan besar yang berpotensi mengubah dunia, sebagaimana rel kereta api dan internet pada masa lalu.
Masalahnya muncul ketika sebuah teknologi yang sangat menjanjikan menarik modal dalam jumlah luar biasa besar. Menurut Grantham, justru gagasan yang paling hebat dapat melahirkan gelembung paling besar karena semua orang ingin ikut menjadi pemenang.
Wawancara yang menjadi sumber utama pembahasan ini dilakukan pada 25 Juni 2026 dalam The Diary of a CEO. Jeremy Grantham diperkenalkan sebagai co-founder GMO dan long-term investment strategist, serta chairman Grantham Foundation for the Protection of the Environment. Ia mengatakan telah berada di dunia investasi sejak 1968 dan pernah mengelola dana pihak lain hingga sekitar US$165 miliar. Penting dicatat, seluruh pandangan mengenai pasar dalam wawancara tersebut merupakan pendapat pribadi Grantham, bukan rekomendasi resmi GMO.
Mengapa Jeremy Grantham Menganggap AI Berpotensi Menjadi Gelembung?
Teknologi Hebat Tetap Bisa Menjadi Investasi Mahal
Salah satu hal paling penting dalam prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI adalah pemisahan antara teknologi dan harga aset.
Grantham mengatakan AI akan mengubah banyak hal. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah teknologi tidak menjamin saham perusahaan yang berkaitan dengannya akan selalu memberikan keuntungan kepada investor.
Ia menggunakan sejarah sebagai contoh. Rel kereta api benar-benar mengubah dunia, tetapi saham perusahaan rel kereta api pernah mengalami kehancuran. Internet juga benar-benar mengubah kehidupan manusia, tetapi gelembung dot-com tetap pecah.
Amazon bahkan pernah mengalami kenaikan luar biasa menjelang gelembung teknologi, lalu turun sekitar 92% ketika bubble pecah. Setelah melewati kehancuran tersebut, perusahaan itu justru berkembang menjadi raksasa perdagangan.
Pesannya jelas: teknologinya bisa benar, tetapi harga investasinya bisa salah.
Euforia Membuat Investor Melupakan Risiko
Menurut Grantham, manusia memiliki kecenderungan kuat untuk optimistis dan menganggap kondisi yang sedang berlangsung akan terus berlanjut. Ketika harga terus naik, kenaikan tersebut menarik semakin banyak pembeli.
Inilah yang membuat prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI relevan untuk dipahami. Bubble bukan semata-mata penipuan. Bubble dapat terbentuk ketika masyarakat terlalu yakin bahwa masa depan akan jauh lebih baik dan bersedia membayar harga yang semakin tinggi untuk mengantisipasinya.
Grantham menilai indikator euforia telah terlihat pada pasar AI dan perusahaan teknologi tertentu. Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu gelembung investasi terbesar dalam sejarah Amerika.
Seberapa Besar Crash Yang Diperkirakan?
Penurunan 70% Bukan Ramalan untuk Semua Saham
Bagian paling banyak menarik perhatian dari prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI adalah pernyataan mengenai potensi penurunan saham.
Grantham mengatakan saham-saham yang mengalami kenaikan paling ekstrem secara historis cenderung menjadi kelompok yang paling rentan ketika gelembung pecah. Dalam wawancara tersebut, ia mengatakan penurunan sekitar 70% pada saham-saham yang berada pada level ekstrem bukan sesuatu yang tidak terduga.
Angka tersebut bukan berarti semua saham AI akan turun 70%. Ia sedang menggambarkan besarnya risiko pada saham yang telah mengalami kenaikan luar biasa.
Sejarah juga menunjukkan bahwa pemulihan dapat memakan waktu panjang. Grantham mengangkat contoh Jepang setelah gelembung saham 1989. Menurutnya, pasar Jepang membutuhkan sekitar 35 tahun untuk kembali ke tingkat sebelumnya.
Karena itu, risiko terbesar bukan hanya kehilangan uang. Investor juga dapat kehilangan waktu, terutama jika membeli aset dengan valuasi sangat tinggi.
Apa Dampaknya Bagi Ekonomi Dan Pekerja?
Crash Saham Bisa Merambat ke Ekonomi
Jika prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI benar, dampaknya tidak berhenti pada investor.
Grantham menjelaskan bahwa ketika nilai aset turun, orang merasa lebih miskin dan cenderung mengurangi pengeluaran. Perusahaan yang terkena tekanan juga dapat mengurangi tenaga kerja. Konsumsi melemah dan ekonomi ikut tertekan.
Dengan kata lain, seseorang tidak harus memiliki saham AI untuk merasakan dampak krisis.
Penurunan investasi perusahaan dapat memengaruhi perekrutan. Berkurangnya konsumsi dapat menekan omzet bisnis. Jika berlangsung cukup lama, tekanan tersebut dapat merambat ke sektor ekonomi lainnya.
AI Juga Mengubah Dunia Kerja
Ada sisi lain dari prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI yang tidak kalah penting: perubahan pekerjaan.
Dalam wawancara, dibahas perkembangan robot humanoid yang semakin mampu melakukan pekerjaan sederhana. Grantham menilai kombinasi antara AI dan robotika sangat mungkin menghasilkan gangguan pekerjaan dalam skala besar.
Ini berarti masyarakat menghadapi dua jenis risiko sekaligus: risiko finansial akibat kemungkinan gelembung pecah dan risiko pekerjaan akibat otomatisasi.
Bagi pekerja Indonesia, kemampuan belajar ulang dan beradaptasi dapat menjadi aset yang sama pentingnya dengan tabungan.
Strategi Investasi Yang Disarankan Grantham
Diversifikasi Adalah Prinsip Utama
Ketika membahas prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI, Grantham tidak menyarankan masyarakat menaruh seluruh kekayaan pada satu aset.
Ia menyebut prinsip pertama adalah diversifikasi: memiliki kombinasi saham, obligasi, kas, dan sebagian kecil logam mulia.
Dalam contoh spesifik untuk investor biasa, Grantham menyebut sekitar 60% pada indeks saham non-AS, 5–10% logam mulia, sebagian real estat jika memang masuk akal, dan sisanya obligasi.
Angka ini tidak seharusnya dianggap sebagai formula wajib bagi masyarakat Indonesia. Kondisi setiap keluarga berbeda.
Pelajaran yang lebih penting adalah jangan membuat seluruh masa depan finansial bergantung pada satu pasar atau satu cerita investasi.
Mengapa Kas dan Obligasi Penting?
Grantham juga menyarankan sebagian portofolio berada dalam kas dan obligasi. Obligasi pada dasarnya merupakan instrumen utang yang memberikan pembayaran berdasarkan ketentuan yang telah disepakati, meskipun tetap memiliki risiko.
Kas memberikan fleksibilitas ketika pasar mengalami tekanan. Investor tidak selalu harus menjual aset yang sedang jatuh hanya karena membutuhkan uang.
Bagi keluarga Indonesia, prinsip ini dapat diterapkan secara sederhana: uang untuk kebutuhan hidup jangan diperlakukan sama dengan uang investasi jangka panjang.
Mengapa Grantham Menghindari Saham Amerika?
Valuasi Menjadi Persoalan
Salah satu bagian paling tegas dalam prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI adalah pandangannya terhadap saham Amerika.
Ia mengatakan investor biasa sebaiknya mempertimbangkan indeks saham non-AS. Alasannya, menurut Grantham, saham di luar Amerika memiliki valuasi yang lebih menarik setelah pasar AS mendominasi selama bertahun-tahun.
Ia mengingatkan bahwa pasar yang menjadi pemenang dalam waktu lama tidak otomatis akan terus menjadi pemenang.
Menurutnya, manusia cenderung melakukan extrapolation: melihat kondisi hari ini kemudian membayangkan kondisi tersebut akan berlangsung jauh ke masa depan.
Bagi investor Indonesia, ini bukan berarti harus menjual semua saham AS. Pesan yang lebih luas adalah mempertimbangkan diversifikasi geografis dan tidak berasumsi bahwa pasar yang paling kuat selama dua dekade akan selalu menjadi yang terbaik.
Bagaimana Pandangannya Terhadap Properti Dan Crypto?
Properti Tidak Selalu Naik
Grantham menilai harga rumah di sejumlah negara telah sangat mahal dibandingkan pendapatan keluarga. Ia memperkirakan dalam skenario yang dibahas, harga rumah dapat turun sekitar 30%, tetapi angka tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai ramalan harga rumah Indonesia.
Pelajarannya sederhana: jangan membeli properti hanya karena yakin harga akan selalu naik.
Harga, lokasi, pendapatan, cicilan, kebutuhan tempat tinggal, dan kemampuan menghasilkan arus kas tetap perlu dipertimbangkan.
Crypto Dipandang Sangat Spekulatif
Dalam prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI, crypto juga mendapatkan perhatian. Grantham mengatakan dirinya tidak memiliki cryptocurrency dan tidak menyarankan orang membeli crypto. Ia menilai volatilitasnya sangat tinggi dan lebih cocok dipandang sebagai sarana spekulasi.
Ia bahkan mengatakan Bitcoin pada akhirnya dapat menuju nol dalam jangka sangat panjang.
Pernyataan tersebut adalah pandangan pribadi Grantham, bukan kepastian masa depan Bitcoin. Yang relevan bagi pembaca adalah memahami bahwa aset dengan volatilitas tinggi dapat memperbesar kerugian ketika seseorang menggunakan uang yang sebenarnya tidak siap untuk hilang.
Apa Yang Harus Dilakukan Rakyat Indonesia?
Persiapan Tidak Harus Berarti Panik
Jika prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI benar, respons yang paling rasional bukan kepanikan.
Persiapan sebaiknya dilakukan ketika kondisi ekonomi masih memungkinkan. Dana darurat, utang terkendali, portofolio yang tidak terlalu terkonsentrasi, dan keterampilan yang dapat menghasilkan pendapatan merupakan bentuk ketahanan.
Bagi pengusaha, Grantham menyarankan pendekatan konservatif: jika memungkinkan, amankan pendanaan dan bangun cadangan karena akses modal dapat menjadi lebih sulit ketika krisis datang.
Keterampilan Praktis Semakin Penting
Grantham memberikan nasihat yang cukup berbeda kepada generasi muda. Ia mendorong mereka mempelajari keterampilan yang benar-benar berguna jika kondisi masyarakat mengalami gangguan. Ia memberikan contoh pertanian dan kemampuan memahami cara menghasilkan kebutuhan dasar.
Bagi Indonesia, ini tidak berarti semua orang harus menjadi petani.
Maknanya adalah jangan hanya mengandalkan satu jenis pekerjaan. Keterampilan digital, teknis, komunikasi, pelayanan, pertanian, perbaikan, pengelolaan keuangan, dan kemampuan memecahkan masalah dapat menjadi modal menghadapi perubahan.
Anjuran Dan Larangan Bagi Rakyat Indonesia
Jika prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI benar, tujuan utama bukan mencari keuntungan maksimal, tetapi menjaga keluarga tetap mampu bertahan.
Anjuran yang Harus Dilaksanakan ✔️
✔️ Anjuran pertama: Bangun dana darurat dan pertahankan sebagian dana dalam bentuk yang mudah dicairkan.
✔️ Anjuran kedua: Diversifikasikan investasi berdasarkan aset dan wilayah, bukan hanya mengikuti aset yang sedang populer.
✔️ Anjuran ketiga: Kendalikan utang konsumtif dan hindari kewajiban yang terlalu besar dibandingkan pendapatan.
✔️ Anjuran keempat: Tingkatkan keterampilan yang dapat digunakan untuk mempertahankan atau menciptakan sumber pendapatan baru.
✔️ Anjuran kelima: Pelajari data dan siklus pasar, bukan hanya mengikuti euforia atau pendapat mayoritas.
Larangan yang Harus Dihindari ❌
❌ Larangan pertama: Jangan menaruh seluruh kekayaan pada saham teknologi atau aset yang sedang sangat populer.
❌ Larangan kedua: Jangan berutang berlebihan hanya untuk mengejar investasi yang sedang naik.
❌ Larangan ketiga: Jangan menganggap harga properti pasti naik selamanya.
❌ Larangan keempat: Jangan menjadikan crypto sebagai satu-satunya tempat menyimpan kekayaan.
❌ Larangan kelima: Jangan menganggap prediksi siapa pun sebagai kepastian, termasuk prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI.
Kesimpulan
Prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI memberikan peringatan yang layak diperhatikan, terutama mengenai hubungan antara teknologi hebat, euforia investor, dan valuasi aset. Grantham tidak mengatakan AI adalah teknologi buruk. Justru ia menganggap AI sebagai salah satu gagasan paling penting yang dapat mengubah dunia. Kekhawatirannya adalah ketika antusiasme terhadap teknologi tersebut mendorong investasi dan harga saham ke tingkat yang terlalu tinggi.
Dalam prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI, saham yang mengalami kenaikan paling ekstrem dianggap paling rentan mengalami penurunan besar. Ia menyebut penurunan sekitar 70% sebagai sesuatu yang tidak mengejutkan dalam kondisi ekstrem, tetapi angka tersebut bukan ramalan bahwa semua saham AI akan jatuh sebesar itu.
Strategi yang ditawarkan Grantham berpusat pada diversifikasi. Ia menyebut saham non-AS, obligasi, kas, logam mulia, dan sebagian properti sebagai komponen yang dapat digunakan untuk menyebarkan risiko. Ia juga sangat berhati-hati terhadap saham AS yang menurutnya sudah mahal serta crypto yang dianggapnya sangat spekulatif.
Bagi rakyat Indonesia, pesan terpenting dari prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI bukanlah menjual semua aset atau mencoba menebak hari terjadinya crash. Yang lebih masuk akal adalah memperkuat fondasi keuangan: memiliki likuiditas, mengendalikan utang, melakukan diversifikasi, tidak mengejar euforia, dan terus meningkatkan keterampilan.
Jika prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI ternyata benar, keluarga yang paling siap bukan selalu mereka yang memiliki investasi paling besar. Bisa jadi justru mereka yang memiliki keuangan sehat, sumber pendapatan adaptif, cadangan yang cukup, dan kemampuan untuk tetap tenang ketika pasar berubah.
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi. Silakan tinjau disclaimer lengkap kami: https://nalarglobal.com/en/disclaimer/ sebelum menerapkan informasi apa pun.
Frequently Asked Questions
1. Apa prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI?
Grantham memperingatkan bahwa gelembung investasi AI dapat mengalami koreksi besar dalam beberapa tahun mendatang dan saham yang naik paling ekstrem berpotensi mengalami penurunan sangat dalam.
2. Apakah semua saham AI akan turun 70%?
Tidak. Angka 70% menggambarkan kemungkinan penurunan ekstrem pada saham yang telah mengalami kenaikan sangat besar, bukan prediksi bahwa semua saham AI akan mengalami penurunan tersebut.
3. Mengapa AI disebut sebagai bubble?
Karena teknologi yang sangat menjanjikan dapat menarik modal berlebihan. Menurut Grantham, gelembung besar justru sering muncul di sekitar gagasan yang benar-benar revolusioner.
4. Apa strategi investasi Jeremy Grantham?
Dalam contoh yang diberikan, ia menyebut sekitar 60% indeks saham non-AS, 5–10% logam mulia, sebagian real estat jika masuk akal, dan sisanya obligasi.
5. Apakah strategi tersebut cocok untuk semua investor Indonesia?
Tidak. Angka tersebut merupakan pandangan Grantham dalam wawancara dan bukan formula universal. Kondisi keuangan setiap orang berbeda.
6. Mengapa Grantham tidak menyukai saham AS?
Ia menilai valuasi saham AS terlalu tinggi setelah mengalami dominasi selama bertahun-tahun dibandingkan pasar di luar Amerika.
7. Bagaimana pandangan Grantham terhadap Bitcoin?
Ia tidak memiliki crypto dan tidak merekomendasikannya. Ia menganggap crypto sangat volatil dan terutama bersifat spekulatif.
8. Apakah harga properti akan turun 30%?
Grantham membicarakan kemungkinan penurunan sekitar 30% pada pasar properti yang ia nilai sangat mahal. Itu bukan ramalan khusus untuk pasar Indonesia.
9. Apa dampak crash terhadap pekerja?
Menurut Grantham, perusahaan yang terkena tekanan dapat melakukan PHK, konsumsi dapat menurun, dan ekonomi dapat mengalami tekanan. Perkembangan AI dan robotika juga dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja.
10. Apa pelajaran terpenting bagi rakyat Indonesia?
Bangun dana darurat, kendalikan utang, diversifikasikan aset, jangan mengejar euforia, dan tingkatkan keterampilan agar tetap mampu menghasilkan pendapatan ketika kondisi ekonomi berubah.
Ringkasan
Prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI berangkat dari pandangan bahwa kecerdasan buatan merupakan teknologi yang sangat penting, tetapi teknologi yang hebat tetap dapat menjadi pusat gelembung investasi. Grantham membandingkan AI dengan rel kereta api dan internet, dua teknologi yang benar-benar mengubah dunia tetapi pernah mengalami periode spekulasi dan kehancuran pasar. Amazon juga pernah mengalami penurunan sekitar 92% ketika gelembung teknologi pecah sebelum kemudian berkembang menjadi perusahaan besar.
Menurut prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI, masalah utama terletak pada euforia dan valuasi. Ketika investor menganggap kondisi positif hari ini akan berlangsung selamanya, harga aset dapat terdorong terlalu tinggi. Grantham memperingatkan bahwa saham yang naik paling ekstrem dapat menjadi yang paling terpukul ketika gelembung pecah. Ia menyebut penurunan sekitar 70% sebagai kemungkinan yang tidak mengejutkan dalam kondisi ekstrem.
Dampaknya dapat meluas ke ekonomi. Ketika nilai investasi turun, masyarakat dapat mengurangi pengeluaran. Perusahaan yang tertekan dapat melakukan PHK, sementara perkembangan AI dan robotika berpotensi menyebabkan perubahan besar di pasar kerja. Untuk menghadapi risiko tersebut, Grantham menekankan diversifikasi. Contoh portofolio yang ia sampaikan mencakup sekitar 60% saham non-AS, 5–10% logam mulia, sebagian real estat bila masuk akal, dan sisanya obligasi. Ia juga menekankan pentingnya kas dan tidak terlalu bergantung pada saham Amerika, properti yang sangat mahal, atau cryptocurrency.
Bagi Indonesia, prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI sebaiknya dipandang sebagai skenario untuk menguji kesiapan. Tidak perlu panik atau menyalin persentase portofolionya secara mentah. Yang lebih penting adalah membangun ketahanan finansial melalui dana likuid, utang yang terkendali, diversifikasi, keterampilan yang relevan, dan kemampuan beradaptasi.
Pada akhirnya, prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI mengajarkan satu prinsip sederhana: kita tidak harus mengetahui kapan badai datang untuk mulai memperkuat rumah. Persiapan yang dilakukan sebelum kepanikan jauh lebih berguna daripada keputusan tergesa-gesa ketika pasar sudah jatuh.
Meta Description
Prediksi Jeremy Grantham tentang Crash AI mengungkap risiko gelembung teknologi, potensi kejatuhan saham, dan cara mempersiapkan keuangan menghadapi krisis.
Referensi
YouTube
Jeremy Grantham — Co-founder GMO, Long-Term Investment Strategist, Chairman Grantham Foundation for the Protection of the Environment. Wawancara dalam The Diary of a CEO, “Billionaire’s WARNING: I’m SELLING. The Crash Is Already Here!”, 25 Juni 2026.
https://www.youtube.com/watch?v=32u5T6lO8qk






- Penulis: Jeremy Grantham
- Editor: TRS
- Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=32u5T6lO8qk

Saat ini belum ada komentar