7 Cara Mendapatkan Ridho Allah di Sisa Umur : Panduan Penting agar Hidup Lebih Bermakna
- account_circle Ustadz Oemar Mita
- calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

Cara Mendapatkan Ridho Allah
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bagaimana cara mendapatkan ridho Allah di sisa umur kehidupan kita?
Jawaban Cepat
Cara mendapatkan ridho Allah dimulai dengan meluruskan niat, memahami agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, menerima nasihat, menjauhi perkara haram dan syubhat, serta memperbanyak ketaatan. Kekayaan bukan ukuran pasti seseorang mendapatkan ridho Allah. Salah satu tanda kebaikan yang disebutkan Nabi Muhammad ﷺ adalah ketika Allah memberikan pemahaman tentang agama kepada seorang hamba.
Waktu terus berjalan tanpa pernah meminta izin. Hari yang telah berlalu tidak dapat dipanggil kembali, sementara tidak seorang pun mengetahui dengan pasti kapan perjalanan hidupnya akan berakhir.
Karena itu, sisa umur bukan sekadar angka. Ia adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, meninggalkan kemaksiatan, dan mengarahkan kehidupan kepada tujuan yang lebih besar: mendapatkan ridho Allah.
Dalam kajian Ustadz Oemar Mita, Lc, pembahasan ini dikaitkan dengan hadis Nabi Muhammad ﷺ:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan perspektif penting. Kebaikan dari Allah tidak selalu berbentuk harta yang melimpah, jabatan tinggi, atau kehidupan yang serba mudah. Salah satu bentuk kebaikan yang sangat besar adalah ketika seorang hamba diberi pemahaman terhadap agama.
Mengapa Ridho Allah Harus Menjadi Tujuan Hidup?
Menurut Ustadz Oemar Mita, manusia perlu menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah. Ketika kesadaran tersebut tumbuh, tujuan hidup tidak lagi berhenti pada pencapaian dunia, tetapi berusaha mendapatkan keridhoan Allah.
Allah berfirman:
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Dan keridhoan Allah adalah lebih besar.” (QS. At-Taubah: 72)
Ayat ini mengajarkan bahwa ridho Allah memiliki kedudukan yang sangat agung. Rumah, pekerjaan, bisnis, jabatan, dan harta memang dapat menjadi bagian dari kehidupan, tetapi semuanya bersifat sementara.
Sementara itu, kehidupan akhirat adalah tujuan yang kekal. Karena itu, semakin bertambah usia, seharusnya semakin bertambah pula kesadaran untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Cara Mendapatkan Ridho Allah Bukan dengan Mengejar Harta
Salah satu kesalahan yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa kekayaan otomatis menunjukkan Allah sedang meridhoi seseorang. Sebaliknya, kemiskinan juga tidak otomatis berarti Allah sedang menghinakan seseorang.
Allah berfirman:
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ كَلَّا
“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)
Dengan demikian, ukuran kemuliaan seorang manusia tidak dapat hanya dilihat dari kondisi finansialnya.
Orang kaya dapat memperoleh harta sekaligus mendapatkan ujian besar. Orang yang hidup sederhana juga dapat memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang menggunakan nikmat dan bagaimana ia menghadapi ujian.
Kaya Belum Tentu Mulia, Miskin Belum Tentu Hina
Pemahaman ini penting agar seorang muslim tidak terjebak dalam ukuran material. Ketika memperoleh kekayaan, jangan langsung menyimpulkan bahwa Allah pasti meridhoi seluruh kehidupan kita.
Begitu pula ketika mengalami kesulitan ekonomi, jangan langsung merasa bahwa Allah sedang membenci atau menghinakan kita. Kondisi tersebut perlu dihadapi dengan syukur, sabar, introspeksi, dan tetap berusaha sesuai kemampuan.
Dalam materi kajian, Ustadz Oemar Mita menegaskan bahwa yang kaya belum tentu mulia, yang miskin belum tentu hina; yang kaya belum tentu Allah ridhoi dan yang miskin belum tentu Allah murkai.
Tanda Kebaikan Allah: Dipahamkan tentang Agama
Hadis “man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fid-din” menjadi inti pembahasan. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah akan memahamkannya tentang agama.
Cara Mendapatkan Ridho Allah melalui Ilmu
Dalam kajian tersebut, ilmu yang dimaksud dalam keutamaan yang disebutkan Al-Qur’an dan hadis berkaitan dengan mengenal Allah dan Rasul-Nya, memahami apa yang Allah cintai dan benci, serta mengetahui apa yang dicintai dan dibenci Rasulullah ﷺ.
Artinya, menuntut ilmu agama bukan hanya menambah pengetahuan. Ilmu seharusnya membantu seorang muslim mengetahui bagaimana menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Semakin seseorang memahami agama, semakin jelas pula kewajiban yang harus dijalankan dan larangan yang harus dijauhi.
Namun, hal ini bukan berarti ilmu dunia tidak bermanfaat. Ustadz Oemar Mita menjelaskan bahwa ilmu seperti kedokteran, arsitektur, matematika, bisnis, dan bidang lainnya tetap dapat menjadi jalan kebaikan apabila dipelajari dengan niat yang benar dan digunakan untuk memberikan manfaat.
Seorang dokter dapat menggunakan keahliannya untuk membantu orang sakit. Seorang arsitek dapat membangun fasilitas yang bermanfaat. Seorang pengusaha dapat menciptakan pekerjaan dan membantu masyarakat.
Persoalan pentingnya adalah arah niat.
Niat Menentukan Arah Amal
Sebelum membahas cara mendapatkan ridho Allah lebih jauh, seorang muslim perlu memeriksa niatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
Ustadz Oemar Mita mengingatkan bahwa seorang muslim perlu hidup dalam keadaan sadar, bukan menjalani aktivitas seperti autopilot. Dalam setiap pekerjaan, belajar, bisnis, ibadah, dan interaksi sosial, hati perlu mengingat bahwa Allah menjadi tujuan utama.
Karena itu, seseorang yang ingin melanjutkan pendidikan perlu bertanya: apakah saya belajar hanya demi jabatan dan penghasilan, atau juga ingin memberikan manfaat?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi bahan muhasabah yang sangat penting.
Empat Kaidah yang Menjadi Bekal
Kajian Ustadz Oemar Mita juga mengingatkan empat kaidah yang telah dibahas sebelumnya sebagai bekal menjalani kehidupan seorang muslim.
1. Menjaga Niat
Setiap amal perlu diarahkan kepada Allah. Aktivitas yang terlihat biasa dapat menjadi bernilai ketika dilakukan dengan niat yang benar.
2. Mengikuti Petunjuk Rasulullah ﷺ
Dalam ibadah, seorang muslim perlu memastikan amalnya memiliki landasan dari Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang tidak berasal darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, semangat beribadah perlu disertai ilmu dan kehati-hatian dalam mengikuti petunjuk agama.
3. Menerima Nasihat
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat.”
Orang yang mau menerima nasihat memiliki kesempatan lebih besar untuk mengetahui kekurangannya dan memperbaiki diri. Nasihat seharusnya menjadi sarana evaluasi, bukan selalu dianggap sebagai penghinaan.
4. Menjauhi Perkara Syubhat
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.”
Perkara syubhat perlu diwaspadai karena tidak selalu jelas bagi setiap orang. Sikap hati-hati dapat membantu seorang muslim menjaga kebersihan kehidupannya dari perkara yang meragukan.
Apa Tanda Allah Mencintai Seorang Hamba?
Dalam hadis qudsi riwayat Muslim yang dijelaskan dalam kajian, seorang hamba mendekat kepada Allah dengan menjalankan kewajiban dan memperbanyak amalan sunnah hingga Allah mencintainya.
Di antara gambaran yang disebutkan adalah Allah menjaga pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki hamba tersebut dari perkara yang tidak diridhoi-Nya.
Ini memberikan pelajaran bahwa mengejar ridho Allah bukan sekadar mengejar perasaan tenang. Seorang hamba yang mencintai Allah perlu berusaha meninggalkan kemaksiatan dan membiasakan diri dengan ketaatan.
Kajian tersebut juga menjelaskan hadis tentang kecintaan Allah kepada seorang hamba yang kemudian disampaikan kepada Jibril dan penduduk langit.
Harapan akhirnya adalah kehidupan yang ditutup dalam keadaan baik. Namun, seorang muslim tidak boleh merasa pasti memperoleh husnul khatimah. Justru kesadaran tentang kematian harus mendorong kita memperbaiki amal selagi masih memiliki waktu.
Muhasabah Sebelum Sisa Umur Berakhir
Ustadz Oemar Mita mengingatkan pentingnya merenungkan kehidupan di hadapan Allah. Menurut penjelasan beliau, manusia sering sulit bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan mudah patah ketika memperoleh ujian karena kurang merenungkan perjalanan kehidupannya.
Muhasabah membantu kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah niat saya sudah benar?
Apakah ilmu yang saya pelajari membuat saya semakin dekat kepada Allah?
Apakah pekerjaan saya memberikan manfaat?
Apakah saya sudah menjalankan kewajiban?
Apakah saya masih meremehkan dosa atau perkara syubhat?
Jika pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur, kita dapat menemukan bagian kehidupan yang perlu diperbaiki.
Anjuran bagi Muslimin dan Muslimat Indonesia
✔️ Anjuran pertama: Perbaiki niat sebelum belajar, bekerja, berbisnis, berdakwah, dan melakukan aktivitas lainnya.
✔️ Anjuran kedua: Pelajari Al-Qur’an, hadis, dan ilmu agama secara bertahap dari sumber yang dapat dipercaya.
✔️ Anjuran ketiga: Biasakan melakukan muhasabah agar nikmat melahirkan syukur dan ujian melahirkan kesabaran.
✔️ Anjuran keempat: Gunakan ilmu, pekerjaan, dan keahlian untuk memberikan manfaat kepada keluarga, masyarakat, dan kaum muslimin.
✔️ Anjuran kelima: Konsisten menjalankan kewajiban dan memperbanyak amalan sunnah sesuai kemampuan.
Larangan yang Harus Dihindari
❌ Larangan pertama: Jangan mengukur ridho Allah hanya dari banyak atau sedikitnya harta.
❌ Larangan kedua: Jangan menganggap kemiskinan sebagai bukti bahwa Allah sedang menghinakan seseorang.
❌ Larangan ketiga: Jangan melakukan ibadah tanpa memperhatikan petunjuk Rasulullah ﷺ.
❌ Larangan keempat: Jangan meremehkan perkara syubhat yang belum jelas.
❌ Larangan kelima: Jangan menjadikan ilmu, pekerjaan, jabatan, atau pendidikan hanya sebagai sarana mengejar pujian dan keuntungan duniawi.
Kesimpulan
Cara mendapatkan ridho Allah bukanlah perlombaan untuk menjadi manusia paling kaya, paling terkenal, atau paling tinggi jabatannya. Kajian Ustadz Oemar Mita mengingatkan bahwa ukuran kebaikan dari Allah tidak dapat disederhanakan menjadi kondisi materi. Salah satu tanda kebaikan yang sangat penting adalah ketika Allah memahamkan seorang hamba tentang agama.
Karena itu, seorang muslim perlu memperbaiki niat, mempelajari agama, mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, menerima nasihat, menjauhi perkara syubhat, dan memperbanyak ketaatan. Ilmu dunia pun dapat menjadi jalan kebaikan apabila dipelajari dengan niat yang benar dan digunakan untuk memberikan manfaat.
Kekayaan hendaknya disyukuri, tetapi tidak dijadikan ukuran pasti keridhoan Allah. Kesulitan hidup juga perlu dihadapi dengan sabar tanpa langsung menyimpulkan bahwa Allah sedang menghinakan kita.
Pada akhirnya, cara mendapatkan ridho Allah adalah perjalanan memperbaiki hati dan amal selama sisa umur masih diberikan. Kita tidak tahu kapan waktu terakhir akan datang. Maka, jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah.
Gunakan waktu yang tersisa untuk mendekat kepada Allah, memperbaiki kesalahan, memperbanyak amal saleh, dan memberikan manfaat kepada sesama. Semoga ketika perjalanan dunia berakhir, kita termasuk hamba yang mendapatkan ridho-Nya.
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi. Silakan tinjau disclaimer lengkap kami: https://nalarglobal.com/en/disclaimer/ sebelum menerapkan informasi apa pun.
Frequently Asked Questions
1. Apa cara mendapatkan ridho Allah yang paling utama?
Cara mendapatkan ridho Allah dimulai dengan meluruskan niat, menjalankan kewajiban, mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, menuntut ilmu agama, menjauhi kemaksiatan dan perkara syubhat, serta memperbanyak amal saleh.
2. Apakah kekayaan merupakan tanda Allah ridho kepada seseorang?
Tidak selalu. Kekayaan maupun kemiskinan sama-sama dapat menjadi ujian. Banyaknya harta tidak otomatis menunjukkan bahwa Allah ridho kepada seseorang, sebagaimana sedikitnya harta tidak otomatis menunjukkan kemurkaan Allah.
3. Apa tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba?
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa salah satu tandanya adalah Allah memahamkan seorang hamba tentang agama. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
4. Mengapa ilmu agama sangat penting dalam kehidupan seorang muslim?
Ilmu agama membantu seseorang memahami apa yang Allah cintai dan benci serta memahami petunjuk Rasulullah ﷺ. Dengan ilmu, seorang muslim dapat beribadah dan menjalani kehidupan dengan landasan yang lebih benar.
5. Apakah belajar ilmu dunia bisa menjadi amal yang bernilai?
Bisa. Dalam penjelasan Ustadz Oemar Mita, ilmu dunia seperti kedokteran, arsitektur, bisnis, dan bidang lainnya dapat menjadi jalan kebaikan apabila diniatkan karena Allah dan digunakan untuk memberikan manfaat.
6. Mengapa niat sangat menentukan nilai amal?
Karena Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa amal bergantung pada niat. Aktivitas yang sama dapat memiliki nilai berbeda karena tujuan yang ada di dalam hati seseorang.
7. Apa hubungan antara menuntut ilmu dan mendapatkan ridho Allah?
Menuntut ilmu agama merupakan salah satu tanda kebaikan yang disebutkan dalam hadis. Ilmu tersebut seharusnya membuat seseorang semakin memahami Allah, Rasul-Nya, kewajiban, larangan, serta cara menjalani kehidupan sesuai petunjuk agama.
8. Apa yang dimaksud perkara syubhat?
Perkara syubhat adalah perkara yang tidak jelas bagi seseorang sehingga membutuhkan kehati-hatian. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang muslim tidak meremehkan perkara yang berada di wilayah meragukan.
9. Bagaimana cara melakukan muhasabah diri?
Muhasabah dapat dilakukan dengan mengevaluasi niat, ibadah, ilmu, pekerjaan, hubungan dengan sesama, dosa yang dilakukan, serta bagaimana kita menggunakan waktu dan nikmat yang Allah berikan.
10. Mengapa kita harus memanfaatkan sisa umur?
Karena tidak seorang pun mengetahui kapan ajal datang. Sisa umur merupakan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, memperbanyak amal saleh, menuntut ilmu, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memberikan manfaat kepada sesama.
RINGKASAN
Cara mendapatkan ridho Allah bukan dengan menjadikan harta, jabatan, popularitas, atau keberhasilan dunia sebagai ukuran utama kemuliaan manusia. Kajian Ustadz Oemar Mita, Lc, menekankan bahwa seorang muslim perlu mengembalikan ukuran keberhasilan kepada hubungan dirinya dengan Allah dan kepada petunjuk Al-Qur’an serta Sunnah.
Salah satu hadis utama yang menjadi pembahasan adalah مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ, yang berarti, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya tentang agama.” Hadis ini menunjukkan pentingnya pemahaman agama sebagai salah satu bentuk kebaikan yang Allah berikan kepada seorang hamba.
Kajian tersebut juga meluruskan anggapan bahwa kekayaan merupakan bukti pasti seseorang mendapatkan ridho Allah. Orang kaya belum tentu lebih mulia, sementara orang miskin belum tentu hina. Kekayaan dan keterbatasan rezeki sama-sama dapat menjadi ujian bagi manusia.
Karena itu, seorang muslim perlu memperhatikan hal-hal yang lebih mendasar. Niat harus diluruskan agar aktivitas dilakukan karena Allah. Ibadah harus memiliki landasan dari petunjuk Rasulullah ﷺ. Nasihat perlu diterima dengan lapang dada, sementara perkara syubhat sebaiknya dihindari dengan sikap hati-hati.
Ilmu agama memiliki kedudukan penting karena membantu manusia mengenal Allah dan Rasul-Nya. Sementara ilmu dunia seperti kedokteran, arsitektur, bisnis, teknologi, dan bidang profesional lainnya dapat menjadi sarana kebaikan apabila digunakan dengan niat yang benar dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Pada akhirnya, cara mendapatkan ridho Allah adalah perjalanan yang harus dilakukan selama seseorang masih memiliki waktu. Memperbaiki niat, menuntut ilmu, menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, melakukan muhasabah, dan memberikan manfaat merupakan bagian dari usaha tersebut.
Sisa umur tidak diketahui panjangnya. Karena itu, jangan menunggu waktu yang dianggap sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Setiap hari yang masih diberikan Allah adalah kesempatan untuk semakin dekat kepada-Nya.
Meta Description: Cara mendapatkan ridho Allah bukan dengan mengejar harta, tetapi melalui ilmu agama, niat ikhlas, ketaatan, muhasabah, dan menjauhi maksiat.
REFERENSI
YouTube
Nama narasumber: Ustadz Oemar Mita, Lc
Jabatan/Kepakaran: Ustadz, dai dan pengajar kajian Islam
Judul video: Kejarlah Ridha Allah di Sisa Umur Kehidupanmu ~ Ustadz Oemar Mita, Lc Terbaru
Link video: YouTube — Kejarlah Ridha Allah di Sisa Umur Kehidupanmu
Sumber Materi
Materi kajian membahas kaidah-kaidah hadis dalam kehidupan seorang muslim, terutama hadis “man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fid-din” tentang tanda kebaikan dari Allah berupa pemahaman terhadap agama.
- Penulis: Ustadz Oemar Mita
- Editor: TRS
- Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=xnT759YV1z8&utm_source=chatgpt.com

Saat ini belum ada komentar