Crash 70% Saham : 7 Peringatan Mengejutkan Jeremy Grantham yang Wajib Dipahami
- account_circle Jeremy Grantham
- calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

Crash 70% Saham
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Apakah crash 70% saham benar-benar bisa terjadi, dan bagaimana rakyat Indonesia sebaiknya bersiap jika peringatan Jeremy Grantham terbukti?
Jawaban Cepat
Crash 70% saham, menurut Jeremy Grantham, bukan skenario yang mustahil, terutama pada saham teknologi dan AI yang mengalami kenaikan sangat besar. Ia menilai valuasi saham Amerika Serikat sudah sangat tinggi dibandingkan sejarah. Karena waktu kejatuhan sulit diprediksi, Grantham menekankan diversifikasi, kas, obligasi, sedikit logam mulia, serta menghindari konsentrasi berlebihan pada saham Amerika.
Pasar yang sedang naik sering membuat investor merasa aman. Nilai portofolio bertambah, berita mengenai teknologi baru bermunculan, dan orang-orang mulai percaya bahwa harga akan terus meningkat.
Namun, menurut Jeremy Grantham, justru suasana euforia seperti itu perlu diwaspadai.
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada 26 Juni 2026, Grantham memperingatkan bahwa pasar saham Amerika Serikat berada pada valuasi yang sangat tinggi. Ia secara khusus menyoroti saham-saham dengan kenaikan paling spektakuler, termasuk saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau AI.
Grantham bahkan menyebut bahwa penurunan hingga 70% pada saham AI yang berada pada valuasi ekstrem bukan sesuatu yang belum pernah terjadi. Namun, ia tidak mengatakan bahwa crash 70% saham pasti terjadi pada tanggal tertentu. Menurutnya, waktu terjadinya koreksi sangat sulit diprediksi.
Pesan terpentingnya bukan mengajak semua orang panik, melainkan mempersiapkan keuangan sebelum kondisi berubah.
Mengapa Crash 70% Saham Menjadi Peringatan?
Grantham menyebut pasar saham AS berada sekitar 35–40 kali earnings. Angka tersebut menurutnya sangat tinggi dan mendekati tingkat valuasi pada gelembung teknologi tahun 2000.
Valuasi tinggi tidak otomatis berarti pasar akan langsung jatuh. Harga dapat terus naik meskipun sudah mahal. Masalahnya, semakin tinggi ekspektasi investor, semakin besar pula penyesuaian yang diperlukan jika pertumbuhan laba tidak mampu memenuhi harapan.
Karena itu, crash 70% saham terutama menjadi peringatan terhadap aset yang sudah mengalami kenaikan luar biasa dan dibeli dengan ekspektasi sangat tinggi.
Apa Itu Gelembung Pasar?
Secara sederhana, gelembung terjadi ketika antusiasme investor mendorong harga aset jauh lebih tinggi. Kenaikan harga kemudian menarik semakin banyak pembeli, sehingga terbentuk momentum yang memperkuat kenaikan tersebut.
Grantham menekankan bahwa harga saham tidak hanya dipengaruhi fundamental perusahaan. Psikologi manusia juga sangat menentukan.
Ketika harga terus naik, investor dapat membeli bukan karena aset tersebut murah, tetapi karena percaya akan ada orang lain yang bersedia membayar lebih mahal.
Euforia Dapat Berubah Menjadi Kepanikan
Masalahnya terjadi ketika keyakinan berubah. Investor yang sebelumnya membeli karena optimisme dapat berbalik menjual ketika melihat harga turun.
Penjualan kemudian menekan harga lebih jauh dan menciptakan kepanikan. Siklus tersebut dapat berlangsung sangat cepat, terutama pada saham yang sebelumnya mengalami kenaikan ekstrem.
Inilah salah satu alasan mengapa crash 70% saham pada saham tertentu tetap mungkin terjadi meskipun perusahaan yang berada di baliknya memiliki teknologi yang nyata.
Mengapa Saham AI Menjadi Perhatian?
Grantham tidak mengatakan bahwa AI adalah teknologi yang tidak berguna. Justru ia mengakui bahwa AI dapat mengubah dunia secara besar-besaran. Persoalannya adalah tidak ada kesepakatan mengenai seberapa besar dampak ekonominya dan bagaimana dampak tersebut seharusnya dihargai oleh pasar.
Teknologi yang hebat tidak otomatis membuat sahamnya menjadi investasi murah.
Jika harga saham sudah mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat tinggi, sedikit saja kekecewaan dapat memicu penurunan besar.
Menurut Grantham, saham-saham yang menjadi “high flyers” secara historis merupakan kelompok yang dapat mengalami penurunan paling dalam ketika gelembung pecah. Ia menyebut penurunan 70% sebagai sesuatu yang tidak luar biasa dalam konteks saham yang sudah berada pada tingkat ekstrem.
Pelajaran dari Nasdaq dan Jepang
Sejarah menjadi salah satu dasar utama argumentasi Grantham.
Pada gelembung teknologi tahun 2000, Nasdaq mengalami penurunan sekitar 82%. Sementara itu, pasar saham Jepang mencapai sekitar 65 kali earnings pada puncak gelembung 1989 dan membutuhkan waktu sangat panjang untuk kembali ke tingkat sebelumnya.
Grantham menggambarkan pengalaman Jepang bukan sekadar sebagai “lost decade”, tetapi lebih seperti kehilangan dua dekade. Ia juga menyebut bahwa pasar Jepang membutuhkan sekitar 35 tahun untuk kembali ke puncak sebelumnya.
Pelajarannya jelas: kerugian besar tidak selalu selesai dalam beberapa bulan. Investor dapat menghadapi periode panjang sebelum aset kembali ke harga puncaknya.
Karena itu, mengandalkan asumsi “nanti pasti kembali” bisa menjadi berbahaya jika seseorang membutuhkan uang tersebut dalam waktu dekat.
Bagaimana Crash Memengaruhi Masyarakat?
Crash pasar saham tidak hanya berdampak pada investor.
Ketika kekayaan finansial turun, masyarakat dapat merasa lebih miskin dan mengurangi pengeluaran. Penurunan konsumsi kemudian dapat memberikan tekanan kepada perekonomian.
Perusahaan yang sebelumnya tumbuh sangat cepat juga dapat mengurangi tenaga kerja ketika kondisi berubah. Bisnis dapat menghadapi kesulitan mendapatkan modal, ekspansi ditunda, dan perekrutan melambat.
Grantham menghubungkan pecahnya gelembung besar dalam sejarah dengan periode ekonomi yang berat, meskipun ia tidak mengatakan bahwa setiap crash pasti menghasilkan depresi ekonomi.
Bagi rakyat Indonesia, dampaknya dapat terasa secara tidak langsung melalui perdagangan global, investasi, nilai tukar, pekerjaan, dan sentimen ekonomi.
Strategi Diversifikasi Jeremy Grantham
Jika crash 70% saham benar-benar terjadi, apa yang sebaiknya dilakukan?
Jawaban utama Grantham adalah diversifikasi. Ia menyarankan agar investor tidak hanya memegang saham, tetapi juga mempertimbangkan obligasi, kas, serta sejumlah kecil logam mulia seperti emas dan perak.
Diversifikasi tidak menjamin seseorang terbebas dari kerugian. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada satu jenis aset.
Jika seluruh kekayaan berada pada saham yang kemudian turun 70%, dampaknya tentu jauh lebih berat dibandingkan portofolio yang memiliki beberapa sumber aset.
Mengapa Kas Penting?
Kas memberikan fleksibilitas ketika pasar sedang jatuh. Seseorang yang memiliki cadangan dana dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa terpaksa menjual saham pada harga rendah.
Karena itu, dana darurat merupakan bagian dari pertahanan finansial. Bagi keluarga Indonesia, jumlahnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kestabilan pendapatan, dan tanggungan masing-masing.
Apa Peran Obligasi?
Grantham menjelaskan obligasi sebagai bentuk pinjaman kepada pemerintah atau perusahaan. Investor menerima pembayaran bunga sesuai ketentuan obligasi selama penerbit memenuhi kewajibannya.
Namun, obligasi bukan aset tanpa risiko. Harga obligasi dapat berubah dan risiko penerbit tetap harus diperhatikan.
Bagi masyarakat Indonesia, prinsipnya dapat diterapkan dengan mempelajari instrumen pendapatan tetap yang sesuai dengan profil risiko, bukan sekadar meniru instrumen yang disebut dalam wawancara.
Bagaimana dengan Emas?
Grantham hanya menyebut logam mulia sebagai bagian kecil dari diversifikasi, bukan sebagai aset yang pasti naik ketika saham jatuh.
Karena itu, emas sebaiknya dipandang sebagai salah satu komponen portofolio, bukan tempat untuk menaruh seluruh kekayaan.
Mengapa Saham Amerika Serikat Diwaspadai?
Pandangan Grantham terhadap saham AS cukup tegas. Ia menilai valuasinya sangat mahal dan menyarankan investor yang tetap ingin memiliki saham untuk mempertimbangkan pasar di luar Amerika Serikat.
Ia menyebut pasar Eropa, Jepang, Kanada, Australia, negara berkembang, dan indeks global ex-US sebagai alternatif diversifikasi.
Namun, ini bukan berarti semua saham AS harus dijual. Pernyataan Grantham merupakan pandangan investasi, bukan kepastian masa depan.
Bagi investor Indonesia, pelajaran yang lebih penting adalah menghindari konsentrasi berlebihan pada satu negara atau sektor.
Mengapa Waktu Crash Sulit Diprediksi?
Inilah bagian yang sering terlupakan dari peringatan Grantham.
Ia sendiri mengakui bahwa waktu pecahnya gelembung sulit diprediksi. Kondisinya bisa berlangsung berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.
Grantham memiliki pengalaman ketika memperingatkan gelembung teknologi pada 1998–1999. Ia ternyata terlalu dini sekitar 2,25 tahun dan akibatnya kehilangan sekitar setengah bisnis yang dikelolanya.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa mengetahui pasar mahal tidak sama dengan mampu mengetahui kapan pasar akan jatuh.
Karena itu, mencoba menjual seluruh investasi hanya berdasarkan prediksi crash 70% saham juga memiliki risiko tersendiri.
Apa yang Harus Dilakukan Rakyat Indonesia?
Jika kita menganggap skenario Grantham benar, fokus utama seharusnya bukan kepanikan, melainkan ketahanan.
✔️ Anjuran pertama: Bangun dana darurat agar kebutuhan hidup tidak bergantung pada penjualan investasi saat pasar jatuh.
✔️ Anjuran kedua: Diversifikasikan aset dan jangan terlalu terkonsentrasi pada satu saham, sektor, negara, atau tema.
✔️ Anjuran ketiga: Kendalikan utang konsumtif dan pastikan cicilan tetap dapat dibayar ketika pendapatan menurun.
✔️ Anjuran keempat: Perkuat keterampilan dan sumber pendapatan agar keluarga tidak bergantung pada satu sumber penghasilan.
✔️ Anjuran kelima: Evaluasi investasi berdasarkan tujuan, risiko, valuasi, dan jangka waktu, bukan karena euforia pasar.
Larangan yang Harus Dihindari
❌ Larangan pertama: Jangan membeli saham hanya karena harga sedang naik dan takut tertinggal.
❌ Larangan kedua: Jangan menggunakan utang berlebihan untuk mengejar aset berisiko tinggi.
❌ Larangan ketiga: Jangan menganggap crash 70% saham pasti terjadi pada tanggal tertentu.
❌ Larangan keempat: Jangan menaruh seluruh kekayaan pada satu aset dengan keyakinan aset tersebut pasti aman.
❌ Larangan kelima: Jangan mengambil keputusan investasi karena panik, rumor, atau tekanan media sosial.
Kesimpulan
Crash 70% saham merupakan peringatan serius Jeremy Grantham terhadap saham-saham yang mengalami kenaikan ekstrem dan memiliki valuasi sangat tinggi, khususnya kelompok saham teknologi dan AI. Ia menggunakan sejarah gelembung Nasdaq 2000 dan pasar Jepang 1989 untuk menunjukkan bahwa penurunan besar bukan sesuatu yang asing dalam dunia investasi.
Namun, Grantham tidak memberikan kepastian kapan crash akan terjadi. Bahkan pengalaman investasinya menunjukkan bahwa seseorang dapat benar mengenai gelembung tetapi terlalu dini dalam menentukan waktunya.
Karena itu, masyarakat Indonesia tidak perlu menerjemahkan peringatan crash 70% saham sebagai ajakan untuk panik atau menjual seluruh investasi. Pelajaran yang lebih penting adalah membangun ketahanan keuangan melalui diversifikasi, dana darurat, utang yang terkendali, pendapatan yang kuat, serta pemahaman terhadap risiko setiap aset.
Jika prediksi Grantham benar, mereka yang paling siap bukanlah orang yang berhasil menebak hari ketika pasar jatuh. Mereka adalah orang yang kondisi keuangannya cukup kuat untuk tetap bertahan ketika harga aset turun dan ekonomi mengalami tekanan.
Crash 70% saham mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi dalam bentuk seperti yang diperkirakan. Tetapi membangun fondasi keuangan yang sehat tetap merupakan langkah rasional dalam menghadapi ketidakpastian.
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi. Silakan tinjau disclaimer lengkap kami: https://nalarglobal.com/en/disclaimer/ sebelum menerapkan informasi apa pun.
Frequently Asked Questions
1. Apa yang dimaksud crash 70% saham?
Crash 70% saham adalah penurunan harga saham hingga sekitar 70% dari level sebelumnya. Dalam pembahasan Jeremy Grantham, risiko tersebut terutama dikaitkan dengan saham-saham yang mengalami kenaikan ekstrem dan valuasi sangat tinggi, khususnya saham AI dan teknologi.
2. Apakah Jeremy Grantham memastikan crash 70% saham akan terjadi?
Tidak. Grantham mengatakan penurunan 70% pada saham-saham AI dengan valuasi ekstrem bukan sesuatu yang belum pernah terjadi. Ia juga menegaskan bahwa waktu terjadinya penurunan sangat sulit diprediksi.
3. Mengapa saham AI menjadi perhatian?
Karena saham yang mengalami kenaikan paling spektakuler dapat memiliki ekspektasi pertumbuhan yang sangat tinggi. Jika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi atau sentimen berubah, penurunan harga dapat berlangsung sangat dalam.
4. Apakah Grantham menganggap AI tidak berguna?
Tidak. Ia justru mengatakan bahwa AI akan mengubah banyak hal. Kekhawatirannya adalah ketidakpastian mengenai dampak AI dan apakah harga saham saat ini sudah mencerminkan ekspektasi yang terlalu tinggi.
5. Apa strategi yang disarankan Jeremy Grantham?
Prinsip utamanya adalah diversifikasi. Grantham menyebut saham, obligasi, kas, dan sejumlah kecil logam mulia sebagai bagian dari pendekatan yang lebih terdiversifikasi.
6. Mengapa dana tunai penting ketika pasar berisiko crash?
Kas dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus menjual investasi ketika harga sedang turun. Dengan demikian, seseorang memiliki ruang untuk bertahan ketika pasar dan ekonomi sedang mengalami tekanan.
7. Apakah emas pasti naik ketika saham turun?
Tidak. Grantham hanya menyebut logam mulia sebagai salah satu bagian kecil dari diversifikasi. Emas dan perak tetap memiliki risiko harga dan bukan jaminan keuntungan.
8. Mengapa Grantham berhati-hati terhadap saham Amerika Serikat?
Ia menilai valuasi saham AS sangat tinggi dan mengatakan dirinya tidak yakin saham AS akan memberikan hasil yang kuat dalam lima hingga sepuluh tahun berikutnya. Ia menyebut pasar luar AS sebagai salah satu pilihan diversifikasi.
9. Apakah investor Indonesia harus menjual seluruh saham AS?
Tidak ada kesimpulan seperti itu dalam video. Pandangan Grantham merupakan penilaian investasinya sendiri. Bagi investor Indonesia, prinsip yang lebih relevan adalah menghindari konsentrasi berlebihan dan menyesuaikan investasi dengan tujuan serta kemampuan menanggung risiko.
10. Apa pelajaran terbesar dari peringatan Jeremy Grantham?
Jangan mencoba menebak secara pasti kapan pasar akan jatuh. Bangun ketahanan keuangan melalui diversifikasi, dana cadangan, pengelolaan utang, dan keputusan investasi yang tidak didorong euforia maupun kepanikan.
Ringkasan
Jeremy Grantham memberikan peringatan keras mengenai kondisi pasar saham Amerika Serikat yang menurutnya sudah berada pada tingkat valuasi sangat tinggi. Ia menyoroti saham-saham yang mengalami kenaikan paling spektakuler, terutama yang berkaitan dengan AI, karena kelompok tersebut berpotensi mengalami penurunan sangat dalam apabila gelembung pecah. Dalam skenario ekstrem, crash 70% saham menurutnya bukan sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah pasar.
Grantham menggunakan pengalaman sejarah untuk menjelaskan risikonya. Nasdaq pernah turun sekitar 82% setelah gelembung teknologi, sedangkan pasar Jepang yang mencapai valuasi sekitar 65 kali earnings pada 1989 membutuhkan waktu sangat panjang untuk kembali ke level sebelumnya. Pelajaran pentingnya adalah kerugian besar dapat diikuti masa pemulihan yang panjang.
Namun, Grantham tidak mampu dan tidak mengklaim mampu menentukan kapan crash akan terjadi. Bahkan ketika memperingatkan gelembung teknologi pada akhir 1990-an, ia ternyata terlalu dini sekitar 2,25 tahun.
Karena itu, pesan utamanya bukan kepanikan, melainkan persiapan. Ia menyarankan diversifikasi dengan mempertimbangkan saham, obligasi, kas, dan sejumlah kecil logam mulia. Ia juga menyarankan agar investor tidak terlalu terkonsentrasi pada saham Amerika Serikat dan mempertimbangkan pasar luar AS.
Bagi rakyat Indonesia, prinsip tersebut dapat diterapkan dengan membangun dana darurat, mengendalikan utang, memperkuat sumber pendapatan, dan tidak menempatkan seluruh kekayaan pada satu aset. Tujuan akhirnya bukan menebak crash 70% saham, tetapi memastikan keluarga tetap mampu bertahan jika kondisi ekonomi memburuk.
Meta Description
Crash 70% saham menjadi peringatan Jeremy Grantham. Pahami risiko gelembung AI, valuasi tinggi, diversifikasi, obligasi, kas, dan strategi bertahan.
Referensi
YouTube
Narasumber: Jeremy Grantham
Jabatan/Kepakaran: Co-founder GMO; investor institusional dan pengamat valuasi serta siklus pasar
Judul Video: Billionaire WARNS: “A 70% Crash Has Already Started”
Tanggal publikasi: 26 Juni 2026
Link video: Tonton video Jeremy Grantham di YouTube
Sumber video mencantumkan Jeremy Grantham sebagai co-founder GMO dan membahas valuasi pasar, risiko saham AI, diversifikasi, obligasi, kas, logam mulia, serta pasar saham di luar Amerika Serikat.






- Penulis: Jeremy Grantham
- Editor: TRS
- Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=nCPBMgAYbYc&utm_source=chatgpt.com

Saat ini belum ada komentar