Gold Dinar dan Silver Dirham: 7 Pelajaran Penting tentang Uang, Riba, dan Masa Depan Ekonomi Islam
- account_circle Sheikh Imran Hosein
- calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gold Dinar dan Silver Dirham
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Apa sebenarnya Gold Dinar dan Silver Dirham dalam perspektif Islam, dan mengapa Sheikh Imran Hosein menghubungkannya dengan riba, inflasi, sistem uang modern, serta akhir zaman?
Jawaban Cepat
Gold Dinar dan Silver Dirham dalam ceramah Sheikh Imran Hosein dibahas sebagai bagian dari konsep uang yang memiliki nilai intrinsik. Ia menjelaskan fungsi uang sebagai alat tukar, ukuran nilai, dan penyimpan nilai, kemudian mengaitkannya dengan emas, perak, riba, inflasi, fiat money, serta masa depan sistem moneter. Hubungan dengan akhir zaman merupakan interpretasi keagamaan Sheikh Imran Hosein dan perlu dipahami secara hati-hati.
Gold Dinar dan Silver Dirham: Mengapa Kembali Dibicarakan?
Uang biasanya baru terasa penting ketika daya belinya mulai berubah. Harga kebutuhan naik, biaya hidup meningkat, sementara jumlah uang yang dimiliki seseorang belum tentu bertambah dengan kecepatan yang sama.
Dari sinilah pembahasan Gold Dinar dan Silver Dirham menjadi menarik. Persoalannya bukan hanya apakah emas dan perak bagus sebagai aset, tetapi pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya fungsi uang dan bagaimana seharusnya uang menjaga nilai kekayaan manusia?
Dalam ceramah GOLD DINAR, SILVER DIRHAM & THE END TIMES — THE BIGGER PICTURE, Sheikh Imran Hosein menghubungkan pembahasan emas dan perak dengan ekonomi Islam, riba, fiat money, kedaulatan ekonomi, dan konsep akhir zaman. Materi tersebut secara eksplisit menempatkan persoalan uang sebagai bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai sistem ekonomi dan kehidupan umat Islam.
Salah satu ilustrasi yang digunakan adalah pengalaman beliau mengenai harga jeruk. Ia menceritakan bahwa ketika masih kecil, sejumlah uang dapat membeli sekitar 100 jeruk, sedangkan puluhan tahun kemudian jumlah uang yang sama bahkan tidak cukup membeli satu jeruk. Ia menggunakan kisah tersebut untuk menggambarkan perubahan daya beli akibat inflasi.
Sheikh Imran Hosein dan Pandangannya tentang Uang
Sheikh Imran Hosein merupakan ulama dan penulis yang banyak membahas Islam, geopolitik, ekonomi moneter, riba, serta eskatologi.
Dalam ceramah tersebut, ia mengajak pendengar kembali melihat sejarah uang dan mempertanyakan apa yang dimaksud dengan uang dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Menurutnya, persoalan uang tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan ekonomi dan kedaulatan masyarakat.
Pandangan ini menjadi dasar pembahasan Gold Dinar dan Silver Dirham. Emas dan perak tidak hanya dipandang sebagai logam mulia, tetapi sebagai bagian dari sejarah uang yang memiliki fungsi ekonomi tertentu.
Namun, pembaca perlu membedakan antara pandangan Sheikh Imran Hosein dan fakta yang merupakan konsensus akademik. Hubungan antara perkembangan sistem moneter dengan tanda-tanda akhir zaman, misalnya, merupakan interpretasi keagamaan beliau dan tidak dapat diperlakukan sebagai kepastian waktu atau peristiwa.
Tiga Fungsi Utama Uang
Sebelum memahami Gold Dinar dan Silver Dirham, kita perlu memahami fungsi uang.
1. Alat Tukar
Uang berfungsi sebagai alat tukar. Masyarakat dapat membeli barang dan jasa tanpa harus melakukan barter langsung.
2. Ukuran Nilai
Uang juga menjadi ukuran nilai. Harga makanan, rumah, kendaraan, jasa, dan berbagai kebutuhan dapat dinyatakan dalam satuan uang sehingga nilainya dapat dibandingkan.
3. Penyimpan Nilai
Fungsi ketiga adalah sebagai penyimpan nilai. Dalam ceramahnya, Sheikh Imran Hosein menekankan fungsi ini ketika membahas inflasi dan perubahan daya beli uang.
Ketiga fungsi tersebut membantu kita memahami mengapa perdebatan tentang Gold Dinar dan Silver Dirham sebenarnya lebih besar daripada persoalan bentuk koin.
Jika uang digunakan sebagai penyimpan nilai, masyarakat tentu berkepentingan mempertahankan daya belinya. Ketika harga barang meningkat secara terus-menerus, jumlah uang yang sama dapat membeli semakin sedikit barang.
Gold Dinar dan Silver Dirham sebagai Uang Berbasis Emas dan Perak
Dalam ceramahnya, Sheikh Imran Hosein menjelaskan bahwa emas dan perak mempunyai kedudukan penting dalam sejarah uang Islam. Ia bahkan menunjukkan sejumlah koin dinar dan dirham ketika menjelaskan konsep tersebut.
Menurut kerangka pemikiran yang disampaikan, emas dan perak mempunyai nilai yang melekat pada materialnya. Karena itu, keduanya berbeda dari uang yang nilainya terutama bergantung pada pengakuan hukum, kepercayaan masyarakat, dan sistem moneter.
Tetapi ada hal penting yang sering terlupakan: emas sebagai aset tidak otomatis sama dengan emas sebagai uang.
Seseorang dapat memiliki emas sebagai penyimpan kekayaan tanpa menggunakan emas tersebut untuk membayar kebutuhan sehari-hari. Agar emas benar-benar berfungsi sebagai uang, diperlukan sistem perdagangan, standar berat dan kadar, mekanisme transaksi, serta penerimaan yang luas.
Karena itu, pembahasan Gold Dinar dan Silver Dirham tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa emas dan perak mempunyai nilai. Kita juga harus memahami bagaimana keduanya digunakan dalam transaksi.
Gold Dinar dan Silver Dirham serta Larangan Riba
Salah satu bagian paling penting dari ceramah adalah hubungan antara emas, perak, dan riba.
Sheikh Imran Hosein membahas kisah pertukaran kurma yang melibatkan Bilal radhiyallahu ‘anhu. Dalam penjelasan beliau, pertukaran kurma berkualitas rendah dengan kurma berkualitas lebih tinggi tidak dilakukan secara langsung dengan jumlah yang berbeda. Nabi Muhammad ﷺ mengarahkan agar kurma tersebut dijual terlebih dahulu, kemudian hasilnya digunakan untuk membeli kurma yang diinginkan.
Ia kemudian menjelaskan prinsip pertukaran barang sejenis, termasuk emas dengan emas dan perak dengan perak. Dalam materi ceramah, pertukaran barang sejenis tersebut dikaitkan dengan prinsip kesetaraan dan transaksi langsung.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa żarū mā baqiya minar-ribā ing kuntum mu’minīn.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang beriman.”
QS. Al-Baqarah: 278.
Ayat tersebut menjadi dasar penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa persoalan transaksi keuangan bukan sekadar soal keuntungan, tetapi juga soal kepatuhan terhadap prinsip syariah.
Mengapa Inflasi Menjadi Persoalan?
Inflasi bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi. Bagi keluarga, inflasi dapat terlihat dari perubahan harga makanan, biaya pendidikan, transportasi, rumah, dan kebutuhan sehari-hari.
Jika pendapatan tidak meningkat sebanding dengan harga barang, kemampuan membeli masyarakat dapat menurun.
Inilah yang membuat fungsi penyimpan nilai menjadi penting. Dalam ceramahnya, Sheikh Imran Hosein menggunakan kisah Ashabul Kahfi untuk membangun argumentasi mengenai uang yang tetap dapat digunakan setelah berlalu waktu yang sangat panjang. Ia kemudian membandingkannya dengan pengalaman perubahan harga dalam kehidupan modern.
Namun, kisah tersebut merupakan bagian dari interpretasi beliau dan tidak boleh diperlakukan sebagai bukti ilmiah bahwa emas atau uang tertentu pasti bebas dari inflasi.
Emas dan perak sendiri tetap memiliki harga pasar yang dapat naik dan turun. Karena itu, memiliki emas juga bukan berarti seseorang bebas dari risiko keuangan.
Dari Gold Standard Menuju Fiat Money
Ceramah tersebut kemudian membahas perubahan sistem moneter internasional.
Sheikh Imran Hosein menjelaskan hubungan dolar Amerika Serikat dengan emas dalam sistem Bretton Woods. Dalam materi tersebut, dolar memiliki hubungan dengan emas melalui mekanisme konvertibilitas tertentu hingga Amerika Serikat menghentikannya pada 1971.
Setelah hubungan tersebut berakhir, sistem uang internasional semakin berkembang menjadi sistem fiat money.
Dalam sistem fiat, uang modern tidak harus memiliki nilai material yang setara dengan nilai nominalnya. Nilainya terutama bergantung pada pengakuan hukum, kepercayaan masyarakat, kebijakan moneter, dan kondisi ekonomi negara penerbit.
Sheikh Imran Hosein sangat kritis terhadap perubahan tersebut. Ia berpendapat bahwa sistem uang tanpa nilai intrinsik dapat menimbulkan persoalan terhadap daya beli dan distribusi kekayaan.
Pandangan tersebut perlu dipahami sebagai kritik beliau, bukan sebagai satu-satunya pandangan ekonomi yang tersedia.
Uang Digital dan Masa Depan Sistem Moneter
Perubahan berikutnya adalah semakin berkembangnya pembayaran elektronik.
Sheikh Imran Hosein menceritakan pengalamannya melihat masyarakat menggunakan telepon pintar untuk membayar makanan tanpa uang tunai. Ia melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari perjalanan menuju transaksi yang semakin elektronik.
Bagi masyarakat Indonesia, transaksi digital memberikan banyak kemudahan. QRIS, mobile banking, kartu pembayaran, dan dompet digital membuat transaksi menjadi cepat dan praktis.
Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan data, ketergantungan terhadap infrastruktur digital, privasi, dan akses masyarakat.
Di sinilah Gold Dinar dan Silver Dirham kembali relevan sebagai bahan diskusi. Keduanya mewakili gagasan uang berbasis aset fisik, sementara uang digital mewakili sistem pembayaran yang semakin tidak bergantung pada uang tunai.
Pertanyaannya bukan apakah teknologi harus ditolak, melainkan bagaimana masyarakat tetap memahami nilai, kepemilikan, dan risiko ketika sistem ekonomi semakin digital.
Apakah Gold Dinar dan Silver Dirham Akan Menjadi Uang Masa Depan?
Sheikh Imran Hosein menghubungkan Gold Dinar dan Silver Dirham dengan masa depan sistem moneter dan akhir zaman.
Dalam ceramahnya, ia menyampaikan pandangan bahwa emas dan perak akan kembali mempunyai peran sebagai uang pada suatu masa yang ia kaitkan dengan akhir zaman.
Namun, hal tersebut harus ditempatkan sebagai interpretasi beliau.
Dalam sesi tanya jawab, ketika membahas ayat-ayat yang menurutnya berkaitan dengan masa depan, ia menegaskan bahwa sebagian ayat memerlukan interpretasi dan bahwa manusia harus mengatakan Allah knows best karena hanya Allah yang dapat memastikan kebenaran sebuah tafsir.
Karena itu, umat Islam sebaiknya tidak mengubah interpretasi akhir zaman menjadi kepastian tanggal, kepastian keruntuhan mata uang tertentu, atau alasan untuk melakukan tindakan finansial secara panik.
Apa Pelajarannya bagi Muslim Indonesia?
Pembahasan Gold Dinar dan Silver Dirham memberikan beberapa pelajaran praktis.
Pertama, umat Islam perlu memahami bagaimana uang bekerja. Mengetahui nilai nominal saja tidak cukup; daya beli juga perlu diperhatikan.
Kedua, pemahaman tentang riba sangat penting. Transaksi keuangan perlu diperiksa dari sisi akad, keuntungan, kewajiban, serta unsur yang terkandung di dalamnya.
Ketiga, emas dan perak dapat dipelajari sebagai bagian dari sejarah ekonomi Islam sekaligus sebagai aset yang memiliki karakteristik tersendiri.
Keempat, perkembangan uang digital perlu dihadapi dengan ilmu, bukan ketakutan. Teknologi memiliki manfaat, tetapi pengguna tetap perlu memahami keamanan dan risiko.
Kelima, pembahasan akhir zaman sebaiknya mendorong ketakwaan dan kehati-hatian, bukan kepanikan ekonomi.
Anjuran dan Larangan bagi Muslimin dan Muslimat Indonesia
Anjuran yang harus dilaksanakan✔️
✔️ Anjuran pertama: Pelajari konsep uang, riba, inflasi, emas, dan perak sebelum mengambil keputusan keuangan.
✔️ Anjuran kedua: Periksa akad dan mekanisme setiap transaksi agar terhindar dari riba, penipuan, dan ketidakjelasan yang merugikan.
✔️ Anjuran ketiga: Kelola kekayaan secara bijaksana dan jangan bergantung hanya pada satu bentuk aset.
✔️ Anjuran keempat: Pelajari sejarah Gold Dinar dan Silver Dirham sekaligus memahami sistem keuangan modern, kalau ada uang dingin bisa membeli dirham perak (silver dirham) dan dinar emas (gold dinar).
✔️ Anjuran kelima: Jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman muamalah serta berkonsultasi kepada ahli fikih untuk transaksi yang kompleks.
Larangan yang harus dihindari ❌
❌ Larangan pertama: Jangan mengambil keputusan investasi hanya karena takut sistem ekonomi akan segera runtuh.
❌ Larangan kedua: Jangan menganggap semua emas dan perak otomatis sesuai syariah tanpa memeriksa akad dan mekanisme transaksinya.
❌ Larangan ketiga: Jangan mengambil utang berbunga tanpa memahami konsekuensi finansial dan aspek syariahnya.
❌ Larangan keempat: Jangan menganggap tafsir akhir zaman sebagai kepastian bahwa peristiwa tertentu pasti terjadi pada waktu tertentu.
❌ Larangan kelima: Jangan menempatkan seluruh kekayaan pada satu aset hanya karena percaya Gold Dinar dan Silver Dirham pasti menjadi satu-satunya uang masa depan.
Kesimpulan
Gold Dinar dan Silver Dirham dalam pemikiran Sheikh Imran Hosein bukan sekadar koin emas dan perak. Keduanya menjadi pintu masuk untuk membahas hakikat uang, daya beli, inflasi, riba, fiat money, kedaulatan ekonomi, dan perkembangan sistem pembayaran digital.
Sheikh Imran Hosein menekankan tiga fungsi utama uang, yaitu alat tukar, ukuran nilai, dan penyimpan nilai. Ia melihat emas dan perak memiliki karakter khusus karena mempunyai nilai material, serta mempunyai sejarah panjang sebagai alat pertukaran.
Ceramah tersebut juga menghubungkan Gold Dinar dan Silver Dirham dengan larangan riba dan aturan pertukaran barang sejenis. Dalam konteks ini, umat Islam perlu memahami bahwa persoalan uang bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan muamalah dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Pada saat yang sama, masyarakat perlu membedakan fakta sejarah, analisis ekonomi, dan interpretasi keagamaan. Pandangan tentang Gold Dinar dan Silver Dirham sebagai bagian dari masa depan sistem moneter dan akhir zaman merupakan interpretasi Sheikh Imran Hosein, bukan kepastian mengenai kapan atau bagaimana peristiwa tersebut akan terjadi.
Bagi Muslimin dan muslimat Indonesia, pesan yang paling praktis adalah memahami uang dengan lebih baik, menjaga kekayaan secara amanah, menghindari riba, memahami inflasi, berhati-hati terhadap utang, dan tidak mengambil keputusan finansial karena kepanikan.
Gold Dinar dan Silver Dirham layak dipelajari sebagai bagian dari sejarah ekonomi Islam dan sebagai konsep uang berbasis emas serta perak. Namun, setiap keputusan finansial tetap membutuhkan pertimbangan tujuan, kemampuan, risiko, likuiditas, dan ketentuan syariah yang berlaku.
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi. Silakan tinjau disclaimer lengkap kami: https://nalarglobal.com/en/disclaimer/ sebelum menerapkan informasi apa pun.
Frequently Asked Questions
1. Apa itu Gold Dinar?
Gold Dinar adalah istilah untuk koin atau satuan nilai berbasis emas yang secara historis berkaitan dengan sistem moneter Islam.
2. Apa itu Silver Dirham?
Silver Dirham adalah istilah untuk koin atau satuan nilai berbasis perak yang dikenal dalam sejarah ekonomi masyarakat Muslim.
3. Apakah Gold Dinar dan Silver Dirham sama dengan investasi emas dan perak?
Tidak selalu. Emas dan perak dapat dimiliki sebagai aset, sedangkan dinar dan dirham dalam konsep uang juga berfungsi sebagai alat tukar dan ukuran nilai.
4. Mengapa Gold Dinar dan Silver Dirham dibahas dalam konteks riba?
Karena emas dan perak termasuk barang yang mempunyai aturan khusus dalam pertukaran menurut hadis yang menjadi dasar pembahasan fikih muamalah.
5. Apakah Gold Dinar dan Silver Dirham pasti menggantikan rupiah?
Tidak ada kepastian seperti itu. Ceramah tersebut berisi pandangan tentang kemungkinan masa depan sistem moneter.
6. Apakah emas bebas dari inflasi?
Tidak. Harga emas dapat naik dan turun sehingga tetap memiliki risiko pasar.
7. Apa tiga fungsi uang?
Tiga fungsi yang dibahas adalah alat tukar, ukuran nilai, dan penyimpan nilai.
8. Apa hubungan fiat money dengan inflasi?
Fiat money dapat mengalami perubahan daya beli karena berbagai faktor ekonomi, termasuk inflasi. Inflasi sendiri memiliki banyak penyebab dan tidak dapat dijelaskan hanya oleh bentuk uang.
9. Apakah pembayaran digital bertentangan dengan Islam?
Tidak dapat disimpulkan secara umum. Status syariah bergantung pada akad, mekanisme, objek transaksi, dan unsur yang terdapat di dalamnya.
10. Apakah tafsir akhir zaman dalam ceramah harus dianggap pasti?
Tidak. Materi ceramah sendiri menekankan bahwa sebagian ayat memerlukan interpretasi dan kebenaran mutlak suatu tafsir hanya diketahui Allah SWT.
Ringkasan
Gold Dinar dan Silver Dirham merupakan tema yang digunakan Sheikh Imran Hosein untuk membahas persoalan yang lebih luas mengenai hakikat uang dalam Islam. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa uang mempunyai tiga fungsi penting, yaitu sebagai alat tukar, ukuran nilai, dan penyimpan nilai. Emas dan perak mendapat perhatian khusus karena mempunyai nilai material dan memiliki sejarah panjang sebagai uang.
Pembahasan Gold Dinar dan Silver Dirham kemudian dikaitkan dengan riba. Sheikh Imran Hosein membahas aturan pertukaran barang sejenis, termasuk emas dengan emas dan perak dengan perak. Prinsip kesetaraan dan transaksi langsung menjadi bagian penting dari penjelasan tersebut.
Ceramah juga membahas inflasi. Pengalaman Sheikh Imran Hosein mengenai perubahan harga jeruk digunakan sebagai ilustrasi bagaimana daya beli uang dapat berubah dalam jangka panjang. Hal ini membawa pembaca pada pertanyaan mengenai kemampuan uang mempertahankan nilai kekayaan.
Selanjutnya, dibahas perubahan sistem moneter dari era uang berbasis emas menuju fiat money dan kemudian berkembangnya transaksi elektronik. Sheikh Imran Hosein memberikan kritik terhadap sistem uang modern dan menghubungkannya dengan persoalan kedaulatan ekonomi.
Dalam perspektif akhir zaman, Gold Dinar dan Silver Dirham dipandang oleh Sheikh Imran Hosein mempunyai kemungkinan kembali memainkan peran sebagai uang. Namun, hubungan tersebut merupakan interpretasi keagamaan dan tidak boleh diperlakukan sebagai kepastian waktu atau prediksi ekonomi.
Bagi Muslim Indonesia, pelajaran pentingnya adalah memahami uang, riba, inflasi, emas, perak, utang, dan teknologi keuangan secara lebih mendalam. Umat Islam juga perlu menghindari keputusan finansial yang didasarkan pada kepanikan.
Pada akhirnya, Gold Dinar dan Silver Dirham dapat menjadi bahan pembelajaran penting tentang sejarah uang dan ekonomi Islam, tetapi setiap keputusan keuangan tetap perlu mempertimbangkan risiko, kebutuhan, kemampuan, dan prinsip syariah.
Meta Description
Gold Dinar dan Silver Dirham kembali dibahas dalam ekonomi Islam. Pelajari fungsi uang, riba, inflasi, fiat money, dan masa depan sistem moneter.
Referensi
YouTube
Narasumber: Sheikh Imran Hosein
Bidang Kepakaran: Islamic studies, filsafat, ekonomi moneter, geopolitik, dan eskatologi Islam
Judul Video: GOLD DINAR, SILVER DIRHAM & THE END TIMES — THE BIGGER PICTURE
Link Video: https://www.youtube.com/watch?v=QIGRfpUZEEc






- Penulis: Sheikh Imran Hosein
- Editor: TRS
- Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=QIGRfpUZEEc

Saat ini belum ada komentar