Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Islam » 7 Amalan Hebat di Sisa Usia yang Menenangkan Hati dan Membawa Bekal Akhirat

7 Amalan Hebat di Sisa Usia yang Menenangkan Hati dan Membawa Bekal Akhirat

  • account_circle KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)
  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 22
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Table of Contents

Apa amalan hebat di sisa usia yang sebaiknya dilakukan seorang Muslim agar hidupnya semakin dekat kepada Allah dan memiliki bekal untuk akhirat?

Jawaban Cepat

Amalan hebat di sisa usia tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar secara lahiriah. Dalam nasihat Gus Baha, salah satu bekal terpenting adalah terus belajar ilmu agama, memperbanyak membaca dan menghafal Al-Qur’an, menjaga ibadah, serta mengurangi orientasi berlebihan kepada dunia. Sisa umur sebaiknya digunakan untuk memperbaiki cara berpikir, memperbanyak amal, dan mempersiapkan diri menghadap Allah.


Amalan Hebat di Sisa Usia: Mengubah Arah Hidup Sebelum Terlambat

Ada masa ketika seseorang mulai menyadari bahwa usia tidak lagi panjang. Tenaga mungkin masih ada, pekerjaan masih berjalan, kebutuhan keluarga masih harus dipenuhi, tetapi hati mulai bertanya: kalau umur benar-benar tinggal sedikit, apa yang sudah dipersiapkan untuk menghadap Allah?
Pertanyaan seperti itu bukan sekadar persoalan umur. Ia menyentuh cara seseorang memandang kehidupan. Sebab, semakin bertambah usia, seseorang seharusnya tidak hanya menghitung apa yang telah dimiliki di dunia, tetapi juga mempertanyakan apa yang akan dibawa ketika semua yang dimiliki ditinggalkan.
Dalam ceramahnya, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengingatkan pentingnya memperbaiki orientasi hidup melalui ilmu dan amal. Ia menggambarkan bagaimana manusia sering kali tetap memiliki ambisi duniawi meskipun usia semakin tua. Keinginan untuk kaya, mapan, dan mendapatkan berbagai kesenangan dunia dapat terus melekat sampai akhir hayat.
Masalahnya bukan semata-mata memiliki harta atau bekerja untuk kehidupan dunia. Yang perlu diperhatikan adalah ketika dunia menjadi pusat perhatian sehingga ilmu, ibadah, dan persiapan menuju akhirat justru semakin tersisih.
Karena itu, pembahasan tentang amalan hebat di sisa usia bukan ajakan untuk meninggalkan kehidupan dunia. Justru sebaliknya, seseorang diajak menata kembali prioritas agar dunia tetap menjadi sarana, bukan tujuan terakhir.

1. Jadikan Sisa Usia sebagai Kesempatan Memperdalam Ilmu

Salah satu pesan paling kuat dalam ceramah Gus Baha adalah pentingnya mencari ilmu. Menurut penjelasan beliau, seseorang yang terus belajar memiliki kedudukan yang sangat berharga karena setiap ilmu yang dipelajari dapat menjadi bekal bagi kehidupan akhirat.
Gus Baha bahkan menceritakan sebuah gambaran tentang seseorang yang memperoleh derajat karena perjalanan mencari ilmu. Pesannya sederhana: jangan merasa terlambat untuk belajar hanya karena usia telah bertambah.
Banyak orang justru berpikir bahwa belajar agama hanya cocok dilakukan ketika masih muda. Setelah bekerja, menikah, memiliki anak, atau memasuki usia lanjut, belajar agama sering dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda.
Padahal, justru ketika seseorang menyadari bahwa sisa umurnya semakin terbatas, belajar dapat menjadi salah satu amalan hebat di sisa usia. Tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang berat. Membaca Al-Qur’an dengan lebih memahami maknanya, mengikuti kajian yang terpercaya, mempelajari fikih ibadah, atau membaca kitab dan penjelasan ulama dapat menjadi langkah nyata.
Gus Baha juga menekankan bahwa ilmu harus membuat seseorang semakin berhati-hati dalam berbicara atas nama Allah. Dalam persoalan tafsir dan ijtihad, beliau mengingatkan agar manusia tidak gegabah menyebut pendapatnya sebagai “hukum Allah” apabila perkara tersebut masih berada dalam wilayah ijtihad.

2. Jangan Jadikan Dunia sebagai Pusat Segala Pikiran

Manusia membutuhkan dunia. Ia membutuhkan makanan, rumah, pekerjaan, kendaraan, pendidikan, dan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, kebutuhan tersebut berbeda dengan menjadikan dunia sebagai orientasi utama kehidupan.
Dalam ceramahnya, Gus Baha mengutip doa yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ:
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami dan jangan pula menjadi batas tertinggi ilmu kami.”
Pesan tersebut sangat relevan bagi kehidupan modern. Seseorang bisa terlihat sibuk sepanjang hari, tetapi belum tentu kesibukannya membawa dirinya semakin dekat kepada Allah.
Ada orang yang sibuk mencari penghasilan karena kekurangan. Ketika mendapatkan kekayaan, ia kembali sibuk mengurus hartanya. Dalam kedua keadaan tersebut, seseorang dapat sama-sama lupa kepada Allah apabila tidak memiliki keseimbangan hidup.
Karena itu, amalan hebat di sisa usia juga berarti belajar mengubah pusat perhatian hati. Bekerja tetap dilakukan, mencari nafkah tetap dijalankan, tetapi hati tidak boleh sepenuhnya diperbudak oleh urusan dunia.

3. Perbanyak Interaksi dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an mendapat perhatian besar dalam nasihat Gus Baha. Beliau mendorong umat agar memiliki hubungan yang kuat dengan Al-Qur’an, baik melalui membaca, menghafal, memahami, maupun menjaga hafalan tersebut.
Dalam ceramahnya, Gus Baha menceritakan pengalaman pribadi mengenai kebiasaan membaca Al-Qur’an secara istiqamah. Ia menjelaskan bahwa dirinya pernah menyelesaikan khataman dengan membagi bacaan secara rutin dalam waktu sekitar enam bulan.
Pesan yang dapat diambil adalah pentingnya kesinambungan. Membaca Al-Qur’an tidak harus selalu dalam jumlah yang sangat banyak dalam satu waktu. Yang lebih penting adalah adanya hubungan yang terus dijaga.
Bagi seseorang yang merasa belum mampu menghafal banyak ayat, jangan menjadikan hal tersebut alasan untuk berhenti. Mulailah dari kemampuan yang ada. Satu halaman yang dibaca dengan istiqamah lebih realistis daripada target besar yang hanya dilakukan sesekali.
Al-Qur’an juga bukan sekadar bacaan. Ia merupakan bagian penting dari ibadah seorang Muslim. Karena itu, menjadikan tilawah sebagai kebiasaan harian dapat menjadi salah satu amalan hebat di sisa usia yang sederhana tetapi bernilai.

4. Jangan Meremehkan Amal Kecil yang Dilakukan dengan Istiqamah

Salah satu kesalahan manusia adalah menganggap amal harus selalu besar agar bernilai. Padahal, kehidupan seorang Muslim justru banyak dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Membaca beberapa ayat Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, menjaga salat, memperbanyak zikir, membantu orang lain, dan mengingat Allah di sela-sela kesibukan merupakan contoh aktivitas yang dapat mengisi sisa umur dengan sesuatu yang lebih bermakna.
Dalam materi ceramah tersebut, Gus Baha juga menunjukkan bagaimana ilmu yang dipelajari dapat memberikan manfaat luas kepada masyarakat. Pengetahuan tentang ibadah, makanan halal, zakat, dan berbagai persoalan fikih bukan hanya berguna bagi orang yang belajar, tetapi dapat memengaruhi kehidupan banyak orang.
Artinya, amal seseorang tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri. Ilmu yang benar dapat diteruskan kepada keluarga, murid, tetangga, dan masyarakat sehingga manfaatnya menjadi lebih luas.


Mengapa Ilmu Sangat Penting Menjelang Akhir Kehidupan?

Memasuki usia yang semakin matang seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati. Ia menyadari bahwa banyak hal yang belum diketahui dan tidak semua persoalan dapat dijawab hanya dengan pengalaman pribadi.

Ilmu Membantu Seseorang Tidak Gegabah dalam Beragama

Gus Baha berkali-kali mengingatkan pentingnya membedakan antara wahyu, penjelasan ulama, dan hasil ijtihad manusia. Dalam persoalan yang memang sudah disepakati secara jelas, umat memiliki pedoman yang kuat. Namun, dalam persoalan ijtihad, perbedaan pendapat dapat terjadi.
Pelajaran ini penting karena seseorang yang semakin banyak belajar seharusnya bukan semakin mudah menghakimi. Sebaliknya, ilmu semestinya membuat seseorang lebih hati-hati, terbuka terhadap perbedaan yang memiliki dasar, dan tidak mudah mengatasnamakan Allah untuk pendapat pribadi.

Ilmu Harus Membawa Manusia Semakin Dekat kepada Allah

Ilmu yang hanya membuat seseorang merasa paling pintar dapat menjadi persoalan. Sebaliknya, ilmu yang benar seharusnya membentuk sikap rendah hati dan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Dalam konteks amalan hebat di sisa usia, belajar bukan sekadar mengejar banyaknya pengetahuan. Tujuan akhirnya adalah memperbaiki iman, ibadah, akhlak, dan cara seseorang menjalani kehidupannya.
Dengan demikian, sisa usia tidak hanya dipenuhi dengan menghitung keuntungan dunia. Ada ruang untuk membaca, memahami, bertanya, berdiskusi, beribadah, dan memperbaiki diri sebelum kesempatan itu benar-benar berakhir.


Menjaga Hafalan Al-Qur’an Sampai Akhir Hayat

Salah satu pesan yang cukup kuat dalam ceramah Gus Baha adalah pentingnya menjaga hubungan dengan Al-Qur’an, termasuk tidak membiarkan hafalan yang sudah dimiliki hilang karena jarang diulang.

Hafal Sedikit tetapi Terus Dijaga

Tidak semua Muslim mampu menghafal seluruh Al-Qur’an. Namun, seseorang yang telah menghafal beberapa ayat atau surah tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaganya agar tidak mudah terlupakan.
Gus Baha menggambarkan hafalan sebagai sesuatu yang seharusnya terus dirawat. Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi “andalan” ketika dibutuhkan, tetapi ketika diuji ternyata hafalan tersebut sudah hilang karena lama tidak dibaca.
Karena itu, amalan hebat di sisa usia tidak harus berupa target menghafal puluhan juz dalam waktu singkat. Yang lebih realistis adalah mempertahankan hafalan yang sudah dimiliki sambil terus menambah kemampuan secara bertahap.

Istiqamah Lebih Penting daripada Target yang Terlalu Berat

Gus Baha menceritakan kebiasaannya membaca Al-Qur’an secara bertahap hingga khatam. Ia menyebut pernah membagi bacaan sehingga satu khataman berlangsung sekitar enam bulan, dengan bacaan yang dilakukan secara rutin.
Gambaran ini memberikan pelajaran praktis: seseorang dapat memilih ritme yang sesuai dengan kemampuannya. Tidak semua orang harus menggunakan pola yang sama.
Bagi orang yang sibuk bekerja, misalnya, membaca beberapa halaman setelah salat dapat menjadi awal. Bagi orang yang memiliki waktu lebih banyak, porsinya bisa ditambah. Yang terpenting adalah hubungan dengan Al-Qur’an tidak terputus.


Menjadikan Salat dan Tilawah sebagai Bekal Sisa Usia

Ketika usia semakin bertambah, seseorang sebaiknya tidak hanya mengejar aktivitas yang menghasilkan keuntungan duniawi. Ada ibadah yang perlu dipertahankan sampai akhir hayat.

Salat Tetap Menjadi Pegangan

Ceramah Gus Baha juga memperlihatkan pentingnya memahami ilmu fikih dalam menjalankan ibadah. Dalam salah satu kisah yang disampaikan, beliau menjelaskan persoalan bagaimana makmum mengingatkan imam ketika terjadi kesalahan dalam salat.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa ibadah membutuhkan ilmu. Seseorang tidak cukup hanya memiliki niat baik; ia juga perlu mengetahui tata cara yang benar agar ketika menghadapi persoalan, ia tidak bertindak berdasarkan perkiraan semata.
Karena itu, belajar fikih ibadah menjadi bagian penting dari amalan hebat di sisa usia. Semakin seseorang memahami ibadahnya, semakin besar peluang ia menjalankannya dengan tenang dan benar.

Jangan Berhenti Belajar Hanya karena Merasa Sudah Tua

Ada anggapan bahwa belajar agama merupakan pekerjaan anak muda. Padahal, usia bukan alasan untuk menghentikan proses belajar.
Gus Baha menggambarkan perjalanan mencari ilmu sebagai sesuatu yang dapat memberikan derajat bagi seseorang. Bahkan ketika seseorang belum merasa menjadi alim, perjalanan belajar itu sendiri tetap memiliki nilai.
Ini menjadi pengingat bagi orang yang merasa “sudah terlambat”. Selama masih hidup, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki pengetahuan, memperbaiki ibadah, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.


Dunia Tetap Dijalani, tetapi Jangan Menjadi Tujuan Akhir

Nasihat Gus Baha tidak berarti umat Islam harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, harta, atau urusan dunia. Justru kehidupan dunia tetap harus dijalani dengan baik.

Bekerja untuk Dunia, Bersiap untuk Akhirat

Manusia membutuhkan penghasilan. Orang yang kekurangan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan orang yang memiliki harta juga memiliki tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik.
Persoalannya muncul ketika perhatian kepada dunia membuat seseorang lupa kepada Allah. Dalam ceramahnya, Gus Baha menyampaikan gambaran bahwa orang miskin bisa sibuk mencari penghidupan sampai lupa kepada Allah, sementara orang kaya dapat sibuk mengurus dunia sampai lupa kepada Allah pula.
Dengan demikian, masalahnya bukan semata-mata miskin atau kaya. Persoalannya adalah ke mana hati diarahkan.

Dunia sebagai Sarana Menuju Akhirat

Gus Baha juga menyampaikan gambaran bahwa dunia semestinya dipandang sebagai tempat perjalanan menuju akhirat. Dunia bukan tujuan terakhir, melainkan tempat seseorang mengumpulkan bekal.
Karena itu, seseorang tetap boleh memiliki kendaraan, rumah, pekerjaan, usaha, dan harta. Namun, semua itu sebaiknya ditempatkan sebagai sarana, bukan ukuran utama keberhasilan hidup.
Inilah salah satu inti amalan hebat di sisa usia: menata kembali prioritas tanpa harus meninggalkan tanggung jawab dunia.


Belajar Rendah Hati dalam Memahami Agama

Bagian lain yang penting dari ceramah Gus Baha adalah penjelasan mengenai batas antara wahyu dan pemahaman manusia terhadap wahyu.

Jangan Mudah Mengatasnamakan Allah

Gus Baha memberikan contoh bahwa dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an, seseorang harus berhati-hati membedakan antara teks Al-Qur’an dan hasil penafsiran manusia.
Menurut beliau, apabila sebuah tafsir ternyata keliru, kekeliruan tersebut tidak berarti Al-Qur’annya yang salah. Yang perlu dievaluasi adalah pemahaman atau penafsiran manusia terhadap ayat tersebut.
Prinsip ini sangat penting untuk kehidupan umat Islam. Ketika berhadapan dengan persoalan agama yang memiliki ruang perbedaan pendapat, seseorang sebaiknya tidak terburu-buru menyatakan bahwa pendapatnya pasti merupakan kehendak Allah.

Menghargai Perbedaan dalam Persoalan Ijtihad

Gus Baha mengangkat contoh keputusan Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menjelaskan pentingnya membedakan keputusan manusia dengan ketetapan Allah.
Pesan yang ingin ditekankan adalah bahwa keputusan dalam persoalan ijtihad dapat mengandung kemungkinan benar maupun keliru. Karena itu, pendapat ulama tetap harus dihormati, tetapi tidak otomatis disamakan dengan wahyu.
Sikap seperti ini justru menunjukkan kedewasaan dalam beragama. Semakin banyak ilmu yang dipelajari, seseorang semestinya semakin berhati-hati dalam mengklaim kebenaran atas nama Allah.


Ilmu Tidak Boleh Dipakai untuk Merusak Pemahaman Agama

Gus Baha juga membahas hubungan antara ilmu pengetahuan dan hukum agama. Salah satu ungkapan penting dalam ceramah tersebut adalah bahwa ilmu tidak boleh digunakan untuk mengalahkan hukum, tetapi hukum tanpa ilmu juga dapat membuat seseorang tidak memahami persoalan dengan baik.

Ilmu dan Hukum Memiliki Peran Berbeda

Dalam salah satu contoh, Gus Baha membahas persoalan arah kiblat dan kondisi geografis bumi. Ia menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan tentang bumi dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang membutuhkan kajian fikih.
Contoh lainnya adalah persoalan perjalanan udara ketika seseorang sedang berpuasa. Perjalanan melintasi zona waktu dapat membuat perhitungan waktu terasa berbeda antara tempat keberangkatan dan tempat tujuan.
Persoalan semacam ini menunjukkan bahwa ulama membutuhkan ilmu untuk memahami realitas. Namun, ilmu pengetahuan tidak dengan sendirinya menggantikan prinsip hukum agama.

Jangan Menggunakan Sains Secara Serampangan

Pesan yang dapat ditarik dari uraian Gus Baha adalah pentingnya menempatkan setiap ilmu pada porsinya. Pengetahuan ilmiah dapat membantu manusia memahami kenyataan, tetapi persoalan hukum agama tetap memerlukan metodologi keilmuan yang sesuai.
Karena itu, salah satu amalan hebat di sisa usia adalah terus belajar dengan sikap rendah hati: belajar agama tanpa antiilmu dan belajar ilmu pengetahuan tanpa merasa dapat menggantikan seluruh peran ulama.


Amalan Hebat di Sisa Usia Berawal dari Perubahan Cara Pandang

Pada akhirnya, nasihat Gus Baha tidak hanya berbicara tentang berapa banyak ayat yang harus dibaca atau berapa banyak kajian yang harus diikuti. Ada perubahan cara pandang yang lebih mendasar.

Dari Mengejar Dunia Menjadi Mengumpulkan Bekal

Selama masih hidup, manusia tentu tetap memiliki kebutuhan. Akan tetapi, semakin sadar terhadap keterbatasan umur, semakin penting pula menanyakan apakah waktu yang tersedia sudah digunakan dengan baik.
Seseorang mungkin tidak dapat mengubah masa lalu. Ia mungkin pernah lalai, terlalu sibuk mengejar harta, kurang belajar, atau belum dekat dengan Al-Qur’an.
Namun, selama masih diberi kesempatan hidup, pintu untuk memperbaiki diri belum tertutup. Sisa usia dapat diisi dengan ilmu, ibadah, membaca Al-Qur’an, menjaga hafalan, memperbaiki akhlak, dan membantu orang lain.

Jangan Menunggu Menjadi Sempurna

Menunggu sampai menjadi “orang baik” terlebih dahulu baru mulai beramal justru dapat membuat seseorang kehilangan waktu.
Mulailah dari apa yang mampu dilakukan hari ini. Jika belum mampu membaca banyak, baca sedikit. Jika belum mampu menghafal banyak, hafalkan yang mampu. Jika belum memahami banyak ilmu, mulailah belajar dari dasar.
Itulah makna praktis amalan hebat di sisa usia: bukan mengejar sesuatu yang terlihat spektakuler, melainkan menggunakan waktu yang tersisa untuk semakin dekat kepada Allah.


Anjuran dan Larangan bagi Muslimin dan Muslimat Indonesia

Anjuran yang harus dilaksanakan ✔️

✔️ Anjuran pertama: Luangkan waktu secara rutin untuk belajar ilmu agama, meskipun dimulai dari materi dasar dan dilakukan sedikit demi sedikit.
✔️ Anjuran kedua: Jadikan membaca Al-Qur’an sebagai kebiasaan yang terus dijaga sesuai kemampuan, bukan hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
✔️ Anjuran ketiga: Rawat hafalan Al-Qur’an yang sudah dimiliki dengan mengulanginya secara rutin agar tidak mudah terlupakan.
✔️ Anjuran keempat: Tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan dunia, tetapi jangan sampai urusan harta, pekerjaan, dan kesibukan membuat hati melupakan Allah.
✔️ Anjuran kelima: Bersikap rendah hati dalam persoalan agama, terutama ketika menghadapi masalah tafsir dan ijtihad yang memungkinkan adanya perbedaan pendapat.

Larangan yang harus dihindari ❌

❌ Larangan pertama: Jangan menjadikan dunia sebagai perhatian terbesar sampai ibadah dan persiapan akhirat terus-menerus ditunda.
❌ Larangan kedua: Jangan berhenti belajar agama hanya karena merasa usia sudah terlalu tua atau waktu sudah terlambat.
❌ Larangan ketiga: Jangan membiarkan hafalan Al-Qur’an yang sudah dimiliki hilang karena tidak pernah diulang.
❌ Larangan keempat: Jangan mudah mengatasnamakan Allah untuk pendapat pribadi dalam persoalan yang masih berada dalam wilayah ijtihad.
❌ Larangan kelima: Jangan menggunakan ilmu pengetahuan secara serampangan untuk menafsirkan atau mengubah ketentuan agama tanpa memahami metodologi ilmu agama.


Kesimpulan

Amalan hebat di sisa usia pada dasarnya bukan tentang melakukan sesuatu yang luar biasa di mata manusia. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan waktu yang masih diberikan Allah untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya.
Nasihat Gus Baha menempatkan ilmu, Al-Qur’an, ibadah, dan keseimbangan antara dunia dan akhirat sebagai bagian penting dalam perjalanan tersebut. Belajar agama tidak seharusnya berhenti hanya karena usia bertambah. Membaca Al-Qur’an juga tidak harus menunggu memiliki waktu luang yang panjang.
Seseorang dapat memulainya dari hal sederhana: membaca beberapa ayat setiap hari, menjaga hafalan yang sudah dimiliki, menghadiri kajian, mempelajari fikih ibadah, memperbaiki salat, dan berusaha agar kesibukan dunia tidak menghilangkan ingatan kepada Allah.
Di sisi lain, ceramah tersebut juga mengajarkan kerendahan hati dalam memahami agama. Pendapat manusia, termasuk hasil ijtihad dan penafsiran, tidak boleh dengan mudah disamakan dengan ketetapan Allah. Perbedaan dalam persoalan ijtihad perlu dihadapi dengan ilmu dan sikap yang dewasa.
Pada akhirnya, amalan hebat di sisa usia adalah usaha sungguh-sungguh untuk menjadikan sisa kehidupan lebih berarti: dunia tetap dijalani dengan tanggung jawab, sementara hati diarahkan untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat.
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi. Silakan tinjau disclaimer lengkap kami: https://nalarglobal.com/en/disclaimer/ sebelum menerapkan informasi apa pun.


Frequently Asked Questions

1. Apa amalan hebat di sisa usia menurut Gus Baha?

Di antara pesan utama Gus Baha adalah memperbanyak belajar ilmu agama, menjaga hubungan dengan Al-Qur’an, mempertahankan ibadah, dan tidak menjadikan dunia sebagai orientasi utama kehidupan.

2. Apakah orang yang sudah tua masih perlu belajar agama?

Ya. Nasihat Gus Baha menekankan bahwa mencari ilmu tetap bernilai selama seseorang masih hidup. Usia bukan alasan untuk berhenti memperbaiki pemahaman agama.

3. Apakah harus menghafal seluruh Al-Qur’an?

Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Yang penting adalah terus berinteraksi dengan Al-Qur’an sesuai kemampuan dan menjaga hafalan yang sudah dimiliki.

4. Mengapa hafalan Al-Qur’an harus terus diulang?

Karena hafalan dapat terlupakan apabila tidak dipelihara. Ceramah Gus Baha memberikan penekanan bahwa hafalan sebaiknya dijaga hingga akhir kehidupan.

5. Apakah mencari kekayaan bertentangan dengan persiapan akhirat?

Tidak. Manusia tetap membutuhkan harta dan penghasilan. Yang perlu dihindari adalah ketika dunia menjadi pusat perhatian sehingga seseorang melupakan Allah dan akhirat.

6. Apa hubungan ilmu dengan ibadah?

Ilmu membantu seseorang memahami bagaimana ibadah dilakukan dan bagaimana menghadapi persoalan agama dengan benar. Karena itu, belajar menjadi bagian penting dalam memperbaiki kualitas amal.

7. Mengapa tidak boleh mudah mengatakan “ini hukum Allah”?

Dalam persoalan yang termasuk ijtihad, manusia dapat mengalami kekeliruan. Karena itu, menurut penjelasan Gus Baha, pendapat atau keputusan manusia perlu dibedakan dari ketetapan Allah yang bersifat pasti.

8. Apakah perbedaan pendapat ulama selalu berarti salah satu pihak sesat?

Tidak otomatis demikian. Dalam persoalan ijtihad, perbedaan dapat terjadi. Yang penting adalah memahami dasar pendapat tersebut dan tidak gegabah menghakimi.

9. Bagaimana memulai amalan jika usia sudah tidak muda?

Mulailah dari kemampuan yang realistis: menjaga salat, membaca Al-Qur’an setiap hari, belajar ilmu agama secara rutin, memperbaiki akhlak, dan mengurangi kesibukan yang tidak bermanfaat.

10. Apa inti pesan Gus Baha tentang sisa umur?

Intinya adalah jangan sampai sisa kehidupan hanya digunakan untuk mengejar dunia. Gunakan kesempatan yang ada untuk belajar, beribadah, membaca Al-Qur’an, dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.


Ringkasan

Amalan hebat di sisa usia tidak harus berupa aktivitas yang besar dan sulit. Nasihat Gus Baha menekankan bahwa kesempatan hidup yang masih tersisa sebaiknya digunakan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ilmu, Al-Qur’an, ibadah, dan amal yang dilakukan secara istiqamah.
Belajar agama merupakan salah satu bekal penting. Seseorang tidak perlu menunggu muda, memiliki banyak waktu, atau merasa sudah cukup pintar untuk mulai belajar. Selama masih hidup, proses memahami agama dan memperbaiki amal tetap memiliki nilai.
Al-Qur’an juga perlu mendapatkan tempat khusus dalam kehidupan. Membaca secara rutin, menghafal sesuai kemampuan, dan menjaga hafalan agar tidak hilang merupakan bentuk nyata membangun hubungan dengan Kalamullah. Tidak harus memaksakan target yang berat; kesinambungan justru menjadi hal penting.
Gus Baha juga mengingatkan agar umat tidak menjadikan dunia sebagai pusat segala perhatian. Bekerja, mencari nafkah, memiliki harta, dan memenuhi kebutuhan keluarga tetap penting. Namun, semuanya perlu ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan, bukan tujuan akhir.
Pelajaran lainnya adalah pentingnya rendah hati dalam memahami agama. Pendapat manusia dalam persoalan tafsir dan ijtihad tidak boleh begitu saja dianggap sebagai keputusan Allah. Ilmu pengetahuan juga harus ditempatkan secara proporsional: ilmu dibutuhkan untuk memahami realitas, sementara hukum agama memiliki metodologi tersendiri.
Dengan demikian, amalan hebat di sisa usia dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan hari demi hari. Memperbaiki salat, membaca Al-Qur’an, belajar, menjaga hafalan, memperbaiki akhlak, dan mengurangi keterikatan berlebihan kepada dunia merupakan cara untuk menjadikan sisa umur lebih bermakna sebagai bekal menuju akhirat.


Meta Description: Amalan hebat di sisa usia dapat menjadi bekal akhirat yang berharga. Pelajari nasihat Gus Baha tentang ilmu, Al-Qur’an, ibadah, dan orientasi hidup.


Referensi

YouTube

• Narasumber: KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), ulama dan pengasuh pesantren dari Rembang, Jawa Tengah.
• Judul video: Ngaji Gus Baha – Amalan hebat disisa usia, dosamu terampuni dan surga menunggumu
• Link video: https://www.youtube.com/watch?v=DTl-hOevv5M

Comments (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Recommended for You

expand_less